Keberadaan penyakit obesitas atau penumpukan lemak tubuh yang berlebih tiÂdak bisa lagi dianggap sepele. BeÂÂberapa riset saat ini menunjukkan, riÂsiko keÂmatian obesitas lebih berbahaya dan telah mengÂgeser posisi dari rokok, yang selama ini menjadi penyebab utama kematian.
Hal itu disampaikan dr Inge Permadhi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) di Jakarta. Inge mengungkapkan, pada 1997 tingkat persentase overweight di Indonesia sekitar 17,5 perÂsen dan obesitas 4,7 persen.
Namun pada 2010, overweight menuÂrun, seÂmenÂtara obesitas meningkat menÂjadi 11,7 persen. Peningkatan ini terjadi karena mereka yang overweight (keÂgeÂmukan) telah beralih menjadi obesitas.
“Rokok awalnya jadi penyebab utaÂma kematian. Tapi karena saat ini gencar kampanye bahaya rokok, ada kecenÂdeÂruÂngan semakin menurun. Tapi obesitas justru malah naik dan mengalahÂkan roÂkok sebagai penyebab kematian,†katanya.
Inge memaparkan, obesitas meruÂpakan faktor risiko berbagai penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, jantung koroner dan pembuluh darah, hiperÂtensi stroke dan berbagai jenis kanker. ObeÂsitas terjadi karena ketidakÂseimÂbangan antara energi yang masuk deÂngan energi yang keluar.
“Kampanye bahaya obesitas harus diÂlakukan secara intensif, sehingga masÂyarakat bisa menjaga berat badannya leÂbih sehat dengan mengatur pola makan dan rajin berolahraga,†terangnya.
Konsultan Nutrisi dan Penyakit MeÂtabolik Departemen Ilmu Penyakit Anak FKUI/RSCM, Dr dr Damayanti R meÂngatakan, angka obesitas di kota-kota besar seperti Jakarta bisa mencapai 30 persen. Jika dibiarkan angka ini bakal terus bertambah.
“Obesitas membahayakan masa depan Indonesia. Anak yang berasal dari keÂluarga kaya, memiliki asupan nutrisi berlebihan dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mereka pintar tapi menjadi percuma kalau akhirnya penyakitan dan tidak produktif,†ujar Damayanti.
Menurutnya, masalah ini mesti segera ditangani supaya masyarakat terhindari dari penyakit kronis akibat obesitas. “Soalnya yang pintar-pintar sudah baÂnyak yang mati muda akibat penyakit kronis tidak menular itu,†katanya.
Pakar Kesehatan Rimawati TedjasukÂmana menambahkan, obesitas bisa juga meningkatkan risiko Obstrutuktive Sleep Apnea (OSA) bagi pada penderitanya. OSA adalah sebuah penyakit dimana terdapat potensi pernapasan berhenti selama tidur.
“Dalam tubuh penderita obesitas terdapat timbunan lemak di sekitar leher dan rongga pernafasan. Ketika tidur timbunan lemak itu akan mendorong otot-otot yang memperbesar obstruksi jaringan di jalan nafas. Akibatnya freÂkuensi berhentinya nafas saat tidur semakin besar,†katanya.
Karena itu, kata Rima, perlunya menÂjaga berat badan guna menghindari riÂsiko ini. Belum lagi, penyakit lain yang teÂngah menunggu seperti diabetes, janÂtung dan lainnya. Wow serem.. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: