Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Awas... Nyawa Melayang Karena Operasi Sedot Lemak

Bedah Kecantikan Rentan Terkena Infeksi & Pendarahan

Minggu, 02 September 2012, 08:15 WIB
Awas... Nyawa Melayang Karena Operasi Sedot Lemak
ilustrasi/ist
rmol news logo Tindakan bedah plastik tidak hanya sekadar menyulap wajah menjadi lebih cantik dan menarik. Tetapi bedah plastik juga dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi anggota tubuh seperti wajah cacat bawaan lahir serta rusaknya wajah karena kecelakaan atau sejumlah penyakit.

Namun, bedah plastik  harus dilakukan secara hati-hati karena memiliki risiko bagi si pasien, mulai dari infeksi sampai pen­darahan. Bahkan tak sedikit pa­sien mengalami efek samping secara fisik dan psikologis dalam tindakan tersebut, yaitu shock mental, depresi dan sindrom ke­canduan operasi plastik.

Menurut Dokter Spesialis Be­dah Plastik dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Gentur Sudjatmiko, tindakan bedah plas­tik secara umum terbagi atas be­dah rekonstruksi dan bedah es­tetika. Perbedaan di antara ke­dua­nya adalah tujuan dari pem­be­dahan itu sendiri.

“Setiap tindakan bedah me­miliki efek samping atau risiko dan semua itu tergantung dari penanganan dokter itu sendiri dalam merekonstruksinya,” kata Gentur dalam seminar media ‘Tingkatkan Kualitas Hidup De­ngan Bedah Estetik dan Rekon­struksi’ di Jakarta, Rabu (15/8).  

Untuk bedah rekonstruksi ber­tujuan mengembalikan fungsi serta memperbaiki bentuk atau penampilan yang lebih baik atau setidaknya mendekati normal aki­bat cacat bawaan lahir, ke­ce­lakaan atau penyakit. Tindakan ini diha­rapkan dapat membantu pa­sien yang sebelumnya merasa ren­dah diri akibat kecacatan, mampu me­ningkatkan keperca­yaan diri dan kualitas hidupnya.

Sedangkan bedah plastik es­tetik atau kosmetika dilakukan ke­pada pasien normal dan sehat untuk membenahi anggota tubuh yang dirasa kurang indah, agar menjadi ideal dan mendekati sempurna.

“Bedah plastik secara tidak lang­sung akan mempengaruhi rasa percaya diri seseorang ka­rena merasa penampilannya le­bih baik,” kata Gentur.

Ada beberapa contoh tindakan dalam bedah rekonstruksi. Di an­taranya transplantasi kulit yang biasanya dilakukan kepada pa­sien mengalami luka bakar atau kecelakaan. Kulit yang di­cang­kok merupakan lapisan epi­dermis kulit dan berasal dari ba­gian tu­buh lain seperti paha, pung­gung atau perut dipin­dah­kan ke bagian tubuh yang kehi­langan jaringan kulitnya.

Selain itu, bisa juga dilakukan flap atau pencangkokan jaring­an kulit beserta jaringan lunak diba­wahnya yang diangkat dari tem­pat asalnya. Tetapi tetap mem­pu­­nyai hubungan pendara­han de­ngan tempat asal untuk kemu­dian mem­bentuk pendara­han ba­ru di tempat resipien (pe­nerima donor).

“Aplikasi teknik bedah ini mi­salnya pada rekonstruksi ku­ping, hidung, memperbaiki ke­lainan pada wajah pasca operasi, mi­salnya kelainan pada pipi pasca operasi tumor, kelainan pada kulit dengan jaringan parut, dan lain­nya,” terang Gentur.

Ada juga tindakan penam­bah­an implan yang biasanya di­la­kukan kepada pasien yang telah melakukan operasi pengangkat­an payudara atau mastektomi.

Sementara itu, tindakan bedah plastik estetik dapat di kelom­pokkan menjadi dua, yaitu tanpa ope­rasi dan dengan operasi. Be­dah plastik tanpa operasi, mi­sal­nya botox, penyuntikan botu­li­num toxin untuk mengurangi atau menghilangkan kerutan di dahi, sudut mata dan pangkal hidung.

Selain itu, ada yang disebut dengan injectable fillers, yang bertujuan menambah volume pada bagian wajah tertentu, seperti bibir atau hidung pada kasus tertentu serta memperbaiki bekas luka yang cekung.

Adapun beragam tindakan be­dah plastik dengan operasi men­cakup rhinoplasty (nose surgery). Operasi ini, dapat memperbaiki bentuk hidung agar lebih propor­sional atau mancung, memper­kecil tampilan hidung yang ber­kesan lebar dan mem­bentuk ujung atau puncak hidung lebih kecil.

“Operasi jenis ini termasuk se­ring, bisa tiga sampai lima kasus per hari. Paling banyak ingin me­ninggikan hidung. Un­tuk me­man­cungkan hidung, dapat dila­kukan dua prosedur dengan meng­gunakan implant silicon padat atau dari tulang rawan,” imbuh dokter spesialis bedah plastik dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Teuku Adi Fitrian atau biasa disapa Tompi ini.

Selain itu, ada juga metode liposuction (sedot lemak) dan tummy-tuck. Menurut Tompi, masyarakat banyak yang salah kaprah jika kedua tindakan sedot lemak tersebut bertujuan mem­buat badan kurus. Padahal, ke­du­anya dilakukan dalam rangka mem­bentuk tubuh dan mengen­cangkan otot yang kendur.

“Semua operasi plastik selalu me­­ninggalkan bekas jahitan te­tapi berkat perkembangan tek­no­logi kedokteran, bekas terse­but da­­pat dihilangkan sehingga ter­lihat samar. Tetapi tetap saja bila pembedahan yang disusul de­ngan penjahitan, selalu akan me­nim­bul­kan bekas,” pesan pe­nyanyi Jazz ini.

Menurutnya, pada bedah plas­tik liposuction, harus diingat, se­tiap tindakan operasi pasti se­lalu memiliki risiko. Bila dokter  ter­lalu banyak me­nyedot lemak da­lam tubuh, maka dapat me­nye­babkan kematian.

Hal tersebut dikarenakan ca­iran tubuh serta darah yang ter­sedot akan sangat banyak, dan sepertiga dari bahan yang ke­luar dari tubuh ketika operasi sedot lemak adalah darah.

“Terlalu banyak keluar lemak, darah serta cairan menyebabkan pasien shock, yang meng­aki­bat­kan gagalnya kerja jantung. Bila Anda ingin melakukan operasi ini, maka tanyakan pada dokter seberapa banyak lemak yang akan dikeluarkan,” jelasnya.

Dokter Spesialis Bedah Plastik RSPI Elida Sari Siburian me­nambahkan, kasus bedah plastik bisa dilakukan dengan tujuan rekonstruksi maupun estetika.

Misalnya, pada kasus operasi rekonstruksi, dimana pasien da­tang dengan keluhan nyeri pung­gung akibat ukuran pa­yudara yang terlalu besar se­hingga mem­beri beban berat pada pung­gung.

“Tindakan ini juga me­ru­pakan upaya rekonstruksi yang per­lu mempertimbangkan hasil es­tetika yang baik,” kata Elida. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA