Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Penderita Fibrilasi Atrium Rawan Terkena Stroke

Debar Jantung Tak Beraturan

Jumat, 31 Agustus 2012, 08:20 WIB
Penderita Fibrilasi Atrium Rawan Terkena Stroke
ilustrasi/ist
rmol news logo Debar jantung yang tidak beraturan dan seringkali berdegup kencang tanpa alasan tertentu, perlu diwaspadai karena itu bagian dari gejala fibrilasi atrium. Penderita fibrilasi memiliki risiko 5 kali lipat terkena stroke dibanding penderita hipertensi.

Menurut spesialis penyakit dalam dan jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita Dr Santoso Karo Karo,  penyakit ini meru­pakan gangguan akibat irama jantung yang tidak normal. Gang­guan ini paling banyak ditemukan dan prevalensinya terus me­ningkat di dunia.

Dia menjelaskan, pada pasien fibrilasi atrium, denyut jantung yang tidak teratur dapat menim­bulkan terbentuknya gumpalan-gumpalan darah di dalam atrium jan­­tung yang dapat bergerak ke otak dan menghalangi aliran darah.

“Gumpalan ini dapat bergerak ke otak, menghalangi aliran darah dan menimbulkan stroke atau bahkan kematian,” kata dia.

Selain itu, stroke pada fibrilasi atrium umumnya menimbulkan dampak dan kecacatan lain, seperti kelumpuhan bahkan gang­guan yang disebabkan bi­asa­nya lebih parah, daripada stroke pada pasien non-penderita fibrilasi atrium.

Ia mengatakan, risiko ter­ja­dinya stroke pada pasien fibrilasi atrium tiap tahun akan bertambah sebanyak 3-4 persen, karena pen­derita fibrilasi sekitar 15-20 per­sen rawan terkena stroke lan­taran tekanan darahnya sangat tinggi.

Menurutnya, stroke yang biasa menyerang penderita fibrilasi adalah stroke kardioemboli, yakni stroke yang disebabkan oleh penyumbatan di dalam jantung, yang kemudian pecah dan terjebak dalam pembuluh arteri besar di otak.

“Penyumbatan pembuluh arteri besar di otak mengakibatkan stroke dan kerusakan yang lebih parah jika dibandingkan dengan penyumbatan arteri kecil pada jenis stroke lainnya,” jelas San­toso dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa (14/8).

Adapun gejala yang perlu diperhatikan, yaitu adanya penu­runan kesadaran pada saat onset (pendarahan mendadak) stroke, onset yang tiba-tiba dimulai dari keluhan ringan, tidak ditemukan kejang atau pun pada saat onset, otot-otot penderita mulai me­lemah atau sering disebut he­mi­plegia, kemudian disusul dengan menurunnya kemampuan melihat serta membau.

“Pada saat mengalami stroke, penderita stroke kardioemboli  akan mengalami hal yang sama dengan stroke lainnya, yakni adanya gangguan syaraf mo­to­riknya, maka penderita meng­alami gangguan bicara atau biasa disebut pelo,” ujarnya.

Santoso memaparkan, fibrilasi atrium sangat rentan terjadi pada pasien penderita lemah jantung, hipertensi dan diabetes melitus, dan orang lanjut usia.

“Bagi mereka yang memiliki hipertensi dan diabetes melitus, sebaiknya menjaga pola makan, mi­num obat teratur, supaya ter­hin­dar dari fibrilasi atrium,” kata dia.

Sementara bagi orang lanjut usia, pola dan gaya hidup se­waktu muda akan sangat mem­pengaruhi muncul atau tidaknya fibrilasi atrium.

Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Harapan Kita, Eka Har­meiwaty menambahkan, gejala awal stroke bersifat mendadak, mulai dari mulut mencong, lum­puh, kesemutan separuh badan, maupun berbicara cadel. Jika salah satu gejala utama muncul dan diketahui faktor risikonya, se­gera ke rumah sakit untuk di­tangani segera .

“Penanganan awal sangat pen­ting untuk menolong pasien membuka sumbatan pembuluh darahnya, sehingga bisa terhindar dari stroke yang membahayakan bagi kesehatan,”  terangnya.

Ia juga meminta pemerintah perlu melakukan edukasi dan sosialisasi yang intens akan bahaya penyakit ini ke ma­sya­rakat. Dengan begitu, tingkat ri­siko stroke dapat ditekan semak­simal mungkin.

Ahli penyakit jantung dari Departemen Cardiologi Fa­kultas Kedokteran Universitas Indo­nesia (FK-UI) Yoga Yuniadi me­nga­takan, pasien stroke fi­brilasi atrium umumnya lebih berat dan bu­ruk, dan pera­wa­tan­nya lebih lama.

Bahkan, penderita fibrilasi punya risiko kematian pada serangan pertama stroke. Ting­ginya tingkat keparahan stroke yang diderita oleh pasien fibrilasi, lanjut Yoga, mengindikasikan bahwa penderita akan mengalami penurunan kualitas hidup yang lebih drastis ketimbang mereka yang tanpa fibrilasi atrium.

“Oleh karena itu, pasien fi­brilasi atrium merupakan kelom­pok yang harus mendapatkan penanganan serius untuk mengu­rangi beban stroke secara ke­se­luruhan di masyarakat,” pa­parnya.

Ia menambahkan, kemung­kinan terjadinya fibrilasi atrium akan meningkat seiring per­tam­bahan usia. Untuk mengetahui diagnosis dapat dilakukan dengan skrining rutin terutama pada usia lanjut dengan EKG (elektro kardiografi) dan periksa denyut nadi secara teratur. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US