Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Penyandang Bipolar Bisa Picu Bunuh Diri

Sulit Dideteksi, Kesadaran & Pengetahuan Minim

Minggu, 12 Agustus 2012, 08:17 WIB
Penyandang Bipolar Bisa Picu Bunuh Diri
ilustrasi/ist
rmol news logo Penyakit mental kronis yang dikenal dengan depresi atau gangguan bipolar (GB) terus meningkat. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan, penyandang GB memiliki risiko kematian yang lebih besar.

Angka kematian GB mencapai 2-3 kali lebih tinggi daripada skizofrenia (gangguan mental) dan angka kematian ini me­ning Â­kat terkait komorbiditas atau penggunaan zat. Penyebab ke­ma­tian terbanyak akibat bunuh diri sebanyak 10-20 persen dan 30 persen kasus gangguan bipolar pernah mencoba bunuh diri.

Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Ma­ngunkusumo (FKUI RSCM) Ayu Agung Kusumawardhani mengatakan, gangguan bipolar belum diketahui secara pasti pe­nyebabnya.

Namun, beberapa du­gaan me­ngarah pada aktivitas virus yang menyerang otak saat masa janin dalam kandungan atau di tahun pertama sesudah lahir. Setelah 15-20 tahun, virus tersebut berubah wujud menjadi bipolar, kemudian di­tambah adanya faktor genetik.

Menurut Diagnostic and Sta­tistical Manual of Mental Di­sorders (DSM), ada  4 tipe GB. Yakni, GB I, yaitu suatu perja­lanan klinis dengan satu atau lebih episode manik atau cam­puran dan biasanya diikuti de­ngan episode depresi mayor (umumnya cukup parah dan perlu perawatan di rumah sakit).

GB II dengan satu atau lebih episode depresi mayor dan diikuti sedikitnya satu episode hipo­manik, namun tidak pernah ada episod manik atau campuran. Kemudian, Bipolar Disorder Not Otherwise Specified (BP-NOS) yang ditandai dengan gejala-gejala bipolar, tapi tidak me­menuhi kriteria GB spesifik.

GB tipe Cyclothymia ditandai dengan adanya sejumlah episode hipomanik atau gejala depresi, tetapi gejala itu belum memenuhi kriteria manik atau depresi ma­yor. Tetapi gejala itu mungkin bisa berkembang menjadi GB I atau II pada 15-50 persen pasien.

Prevalensi GB selama kehi­dupan cukup tinggi, yaitu GB I, 1 persen dan GB II sebanyak  4 persen dengan rasio lelaki. Pe­rem­puan sama dengan rata-rata 15-24 tahun dan penyebab ke­ma­tian tertinggi adalah bunuh diri se­hingga suicidal ideation wajib di­deteksi pada setiap penderita GB.

“Sayangnya GB sering tidak terdeteksi, padahal angka ke­ma­tiannya meningkat terkait dengan komorbiditas penggu­naan zat dan penyakit medis lain­nya,” ungkap Ayu Agung pada Seminar Media di Jakarta, kemarin.

Deteksi dini gangguan bipolar, menurutnya,  dapat dilakukan dengan menggunakan The Mood Disorder Questionaire (MDQ) dengan melihat gejala-gejala pa­da pasien. Yaitu, perasaan gem­bira yang lebih dari biasanya, sa­ngat iritabel, memiliki keper­cayaan diri yang tinggi.

Kemudian, dia merasa tidak memerlukan waktu untuk tidur, banyak bicara atau berbicara lebih cepat dari biasanya, energik dan sangat aktif, pikiran ber­lomba, konsentrasi mudah ter­alih, memiliki masalah pada lingkungan sosial dan pekerjaan, lebih tertarik terhadap sek­sua­litas, memiliki perilaku yang be­risiko dan boros.

Ada tiga rumus yang dapat digunakan untuk memprediksi bipolar pada seseorang, yakni dengan melihat apakah meng­alami episo­de depresi mayor, se­perti kega­galan perkawinan, ke­gagalan berespons terhadap anti­depresan, memiliki saudara kan­dung yang menderita gangguan mood, terindikasi penya­lah­gu­naan zat, memiliki perilaku impulsif (berjudi, me­nge­mudi mobil de­ngan sangat cepat, sek­sual), berpacaran secara simultan, pe­ker­jaan simultan. Kemudian terdiag­nosis memiliki gangguan kepri­ba­dian, histronik, dan psi­kotik. Serta sangat me­nyukai ben­da-benda  atau ak­sesoris ber­warna merah.

Ketua seksi Bipolar Per­him­punan Dokter Spesialis Kedok­teran Jiwa (PDSKJI) Handoko Daeng mengatakan, gejala yang bervariasi dan tumpang tindih dengan gangguan psikiatri lain seringkali menyebabkan mis­diagnosis terhadap GB. Untuk itu, disarankan  segera lakukan deteksi dini dan berkonsultasi dengan psikiater. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA