Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Dukungan Keluarga Sangat Membantu Kesembuhan

Minggu, 12 Agustus 2012, 08:04 WIB
Dukungan Keluarga Sangat Membantu Kesembuhan
ilustrasi/ist
rmol news logo Perhatian keluarga menjadi salah satu faktor penting ke­sembuhan bagi penyandang gang­guan bipolar (GB) selain obat.  Keluarga dapat menjadi indikator pendukung utama bagi penyan­dang GB agar prognosis (tingkat kesembuhan) meningkat.

Psikiatri Fakultas Kedok­teran Universitas Airlangga RSUD DR Soetomo Surabaya Margarita M Maramis menjelaskan, pengo­batan GB adalah de­ngan inter­vensi farmakologik, juga non-farmakologik.

Strategi tatalaksana GB sifat­nya mul­ti­fasik, berkelanjutan, menye­luruh (obat, psikoterapi, dukungan keluarga dan masyara­kat), dapat mencegah komplikasi (bunuh diri, habisnya harta, ma­salah pe­kerjaan, hubungan inter­per­sonal, penyalahgunaan nar­koba) serta mencegah kekam­buhan.

Menurutnya, pengobatan pe­nyakit ini tergantung pada sta­dium GB yang dialami. Secara far­makologi (mengkonsumsi obat), pengobatan GB ditekankan untuk mencegah dan meredakan episode manik atau depresi serta efektif dalam jangka panjang.

“Pilihan obat tergantung pada ge­jala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi dan gang­guan tidur,” ka­ta Margarita di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, pencarian obat se­ring tertunda karena berbagai alasan misalnya, kesalahan diag­nosis, ketidaksadaran pasien akan sa­kitnya, adanya belief yang meng­hambat. Yang parah, di­tambah stigma negatif dari ke­luarga.

“Ka­rena itu, pemberian psi­koedukasi dan psikoterapi yang diperoleh dari keluarga sangat penting untuk meningkatkan kesembuhan,” ujarnya.

Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM Nurmiati Amir mengatakan, prog­nosis pada penderita GB II lebih buruk daripada GB I. Bu­ruknya prognosis disebabkan seringnya pasien dengan GB-II mengalami depresi berat.

 Di samping itu, risiko bunuh diri pada pasien dengan GB ter­nyata 20 persen lebih besar di­bandingkan populasi secara umum. Pasien dengan riwayat percobaan bunuh diri mengalami per­jalanan penyakit yang lebih kompleks dan lebih berat. Se­ring­nya perputaran episode de­pre­sif dan manik dihubungkan buruk­nya prognosis dan kualitas hidup.

Terdapat be­berapa indikator yang mem­per­kirakan buruknya prognosis. Yaitu buruknya riwayat pe­ker­jaan, penggunaan alkohol, ada­nya gambaran psikotik, gam­baran depresif di antara episode manik, adanya pemikiran untuk bunuh diri, jenis kelamin laki-laki, dan bila disertai (ber­ko­morbiditas) dengan gangguan kesehatan fisik.

Komorbiditas penyandang GB antara lain penggunaan zat adik­tif, distimia, gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik serta Attention deficit hype­r­activity disorder (ADHD). Ko­morbiditas ditemukan 90 persen pada anak-anak dan 30 persen pada remaja bipolar.

“Banyak penyandang GB juga kecanduan rokok, alkohol atau zat adiktif. Hal ini sering diang­gap dapat meringankan GB, na­mun sebenarnya justru dapat memicu, memperparah atau mem­perpanjang episode depresi atau mania,” tambahnya.

Apalagi, kata dia, pasien de­ngan gangguan depresi dan ce­mas lebih sulit berhasil untuk berhenti merokok. Selain ber­dam­pak terhadap diri sendiri, ke­luarga, psikologi serta finansial.

“Oleh karena itu dukungan ke­luarga sangat dibutuhkan. Ke­luarga diharapkan dapat mem­beri dorongan dan dukungan ke­pada penyandang GB untuk op­timis agar mereka semangat menja­lankan kehidupan. Pe­nyan­dang GB jangan dijauhi, me­lainkan di­rangkul, diberi ke­nya­manan dan kehangatan oleh orang-orang di sekitarnya,” tan­dasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA