Perhatian keluarga menjadi salah satu faktor penting keÂsembuhan bagi penyandang gangÂguan bipolar (GB) selain obat. Keluarga dapat menjadi indikator pendukung utama bagi penyanÂdang GB agar prognosis (tingkat kesembuhan) meningkat.
Psikiatri Fakultas KedokÂteran Universitas Airlangga RSUD DR Soetomo Surabaya Margarita M Maramis menjelaskan, pengoÂbatan GB adalah deÂngan interÂvensi farmakologik, juga non-farmakologik.
Strategi tatalaksana GB sifatÂnya mulÂtiÂfasik, berkelanjutan, menyeÂluruh (obat, psikoterapi, dukungan keluarga dan masyaraÂkat), dapat mencegah komplikasi (bunuh diri, habisnya harta, maÂsalah peÂkerjaan, hubungan interÂperÂsonal, penyalahgunaan narÂkoba) serta mencegah kekamÂbuhan.
Menurutnya, pengobatan peÂnyakit ini tergantung pada staÂdium GB yang dialami. Secara farÂmakologi (mengkonsumsi obat), pengobatan GB ditekankan untuk mencegah dan meredakan episode manik atau depresi serta efektif dalam jangka panjang.
“Pilihan obat tergantung pada geÂjala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi dan gangÂguan tidur,†kaÂta Margarita di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, pencarian obat seÂring tertunda karena berbagai alasan misalnya, kesalahan diagÂnosis, ketidaksadaran pasien akan saÂkitnya, adanya belief yang mengÂhambat. Yang parah, diÂtambah stigma negatif dari keÂluarga.
“KaÂrena itu, pemberian psiÂkoedukasi dan psikoterapi yang diperoleh dari keluarga sangat penting untuk meningkatkan kesembuhan,†ujarnya.
Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM Nurmiati Amir mengatakan, progÂnosis pada penderita GB II lebih buruk daripada GB I. BuÂruknya prognosis disebabkan seringnya pasien dengan GB-II mengalami depresi berat.
Di samping itu, risiko bunuh diri pada pasien dengan GB terÂnyata 20 persen lebih besar diÂbandingkan populasi secara umum. Pasien dengan riwayat percobaan bunuh diri mengalami perÂjalanan penyakit yang lebih kompleks dan lebih berat. SeÂringÂnya perputaran episode deÂpreÂsif dan manik dihubungkan burukÂnya prognosis dan kualitas hidup.
Terdapat beÂberapa indikator yang memÂperÂkirakan buruknya prognosis. Yaitu buruknya riwayat peÂkerÂjaan, penggunaan alkohol, adaÂnya gambaran psikotik, gamÂbaran depresif di antara episode manik, adanya pemikiran untuk bunuh diri, jenis kelamin laki-laki, dan bila disertai (berÂkoÂmorbiditas) dengan gangguan kesehatan fisik.
Komorbiditas penyandang GB antara lain penggunaan zat adikÂtif, distimia, gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik serta Attention deficit hypeÂrÂactivity disorder (ADHD). KoÂmorbiditas ditemukan 90 persen pada anak-anak dan 30 persen pada remaja bipolar.
“Banyak penyandang GB juga kecanduan rokok, alkohol atau zat adiktif. Hal ini sering diangÂgap dapat meringankan GB, naÂmun sebenarnya justru dapat memicu, memperparah atau memÂperpanjang episode depresi atau mania,†tambahnya.
Apalagi, kata dia, pasien deÂngan gangguan depresi dan ceÂmas lebih sulit berhasil untuk berhenti merokok. Selain berÂdamÂpak terhadap diri sendiri, keÂluarga, psikologi serta finansial.
“Oleh karena itu dukungan keÂluarga sangat dibutuhkan. KeÂluarga diharapkan dapat memÂberi dorongan dan dukungan keÂpada penyandang GB untuk opÂtimis agar mereka semangat menjaÂlankan kehidupan. PeÂnyanÂdang GB jangan dijauhi, meÂlainkan diÂrangkul, diberi keÂnyaÂmanan dan kehangatan oleh orang-orang di sekitarnya,†tanÂdasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: