Gangguan psikologi saat ibu hamil mesti diwaspadai. Pasalnya, jika ibu hamil mengalami banyak tekanan, depresi dan stress, keselamatan ibu dan janin akan terganggu bahkan berisiko melahirkan anak terkena skizofrenia (gangguan kejiwaan) karena kekurangan zat besi (Fe) saat kehamilan.
Bahkan tak jarang sang ibu bisa sampai membunuh bayinya sendiri. Kondisi depresi ini sering dialami pada masa kehaÂmilanÂnya. Sekitar 10-20 persen wanita berusaha untuk melawan gejala depresi dan seperempat sampai setengahnya terkena depresi yang berat.
Psikolog Medicare Clinic Ibu dan Anak Anna Surti Ariani meÂngatakan, terdapat tiga kondisi psikologi utama yang dialami waÂnita hamil. Yaitu, rasa bahagia, ceÂmas dan depresi. Sang ibu baÂhagia karena dalam waku dekat akan memiliki keturunan. SeÂdangkan raÂsa cemas muncul kaÂrena proses kehamilan dan konÂdisi di sekitarnya.
“Nah perasaan cemas ini kalau tidak diredam akan berkembang menjadi depresi. Fluktuasi emoÂsi tersebut adalah hal yang norÂmal, tetapi harus diatasi agar tiÂdak berkembang menjadi depÂresi,†jelas Anna dalam diskusi keseÂhatan tentang bahaya gangÂguan psikologi saat kehamilan di JaÂkarta, Selasa (31/7).
Namun yang paling fatal, jika keadaan depresi maupun cemas pada masa kehamilan tidak diÂatasi hingga masa kelahiran. Hal itu akan menimbulkan berbagai kondisi depresi yang mengancam perÂkembangan bayi. Di antaraÂnya, baby blues syndrome atau postÂpartum depression (perasaan sedih setelah melahirkan) dan postÂpartum psychosis.
“Terutama untuk depresi postÂpartum psychosis, depresi ini tergolong depresi yang paling serius yang dapat berkembang setelah melahirkan. Seperti hiÂlangnya kontak dengan realiÂtas,†ungkap Anna.
Dia mengingatkan, depresi postÂpartum psychosis itu harus diperÂtimbangkan sebagai daruÂrat meÂdis. Sebab, tingginya risiÂko pasien untuk melakukan buÂnuh diri atau membunuh bayiÂnya sendiri. Perawatan ruÂmah sakit diperlukan untuk menÂjaga ibu dan bayinya tetap aman.
“Postpartum psychosis muncul secara tiba-tiba. Biasanya dalam jangka dua minggu pertama seÂtelah melahirkan dan kadang dalam 48 jam,†terangnya.
Adapun gejala-gejalanya meÂliputi halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata), delusi (paranoid dan keÂyakinan yang tidak rasional), rasa gelisah dan kecemasan yang eksÂtrim, pikiran atau tindakan bunuh diri, perubahan mood yang ceÂpat, ketidakmampuan atau peÂnolakan untuk makan dan tidur, serta piÂkiran untuk meÂlukai atau memÂbunuh bayinya sendiri.
Penyebab depresi pada ibu yang sedang menganÂdung diseÂbabkan banyak hal. Pertama, adaÂnya perubahan horÂmon yang memÂpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga sang ibu sering merasa kesal, jeÂnuh, atau sedih, bahkan tekanan ekonomi. Di sinilah pentingnya peran suaÂmi dan keluarga bagi ibu haÂmil.
“Suami bisa mengurangi keÂceÂmasan ibu hamil dengan memÂbanÂtu mencari informasi seputar keÂhaÂmilan. Tetaplah menjadi suami siaga selama kehamilan,†sarannya.
Untuk menjadi suami siaga yang baik, yang perlu dilakukan adalah mendengarkan keluhan istri dan mengucapkan kata-kata penghiburan. “Banyak-banyakÂlah memeluk, membelai, atau menemani istri,†ujar Anna.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas IndoÂnesia RSCM Noroyono Wibowo menjelaskan, paÂda janin dari ibu yang mengÂalami depresi saat keÂhamilan, akan berisiko melahirÂkan anak menderita skizofrenia (gangguan kejiwaan). Saat depÂresi, ibu kekurangan zat besi (Fe) pada masa kehamilannya.
“Ibu yang mengalami kekuraÂngÂan nutrisi sebelum masa kehaÂmilan, berÂpotensi mengaÂlami depÂresi postÂpartum atau pasca kelaÂhiran yang bisa memicu bunuh diri, dan bayi yang dilahirkan bisa mengÂalami penurunan kecerdaÂsan hingga 20 persen,†jelas Nuryono. [Harian Ralyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: