Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Duh, Indonesia Sejajar Dengan Angola & Nigeria

Minggu, 05 Agustus 2012, 08:04 WIB
Duh, Indonesia Sejajar Dengan Angola & Nigeria
ilustrasi/ist
rmol news logo .Pemberian imunisasi secara lengkap dan sesuai jadwal, bu­kan hanya bermanfaat mengha­silkan kekebalan tubuh terhadap pe­nya­kit, tapi juga mencegah pe­nularan penyakit atau wabah.

Beberapa kejadian di Indonesia sudah membuktikan hal tersebut. Sebut saja wabah polio pada ta­hun 2005-2006 yang menye­bab­kan 385 anak lumpuh, wabah campak antara tahun 2009-2011 yang menyebabkan 5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 di antaranya meninggal.

Hal itu diungkapkan Ke­tua Pa­ntia Penyelenggara Ha­nifah Os­wari dalam pembukaan Simpo­sium bersama Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakar­ta, Se­lasa (20/7). Menu­rutnya, ma­yo­ritas wa­bah pen­ya­kit disebabkan aki­bat ca­kupan imu­nisasi yang rendah.

Berdasarkan data Riset Kese­hatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, sekitar 46,2 persen anak di Indonesia sudah mendapatkan imu­nisasi secara lengkap dan 45,3 persen imunisasinya tidak lengkap.

Indonesia kini berada dalam daf­tar 10 negara yang bayinya ba­nyak tidak diimu­nisasi, sejajar dengan Angola, Nigeria, Bangla­desh, Pa­kistan dan Ethiopia. Me­nurut data terakhir Organisasi Kese­hatan Dunia (WHO), sam­pai saat ini angka kematian balita akibat pe­nyakit infeksi yang se­harusnya dapat dicegah lewat imunisasi masih tinggi.

Bahkan di antaranya, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun, misalnya batuk rejan 294.000 (20 persen), tetanus 198.000 (14 persen) dan campak 540.000 (38 persen).

United Nations Inter­national Children’s & Edu­cation Fund (UNICEF) menca­tat, se­kitar 30.000-40.000 anak di Indonesia tiap ta­hun menderita campak.

Ketua Satuan Tu­gas (Satgas) Imunisasi IDAI dr Sri Rezeki Hadinegoro mengat­a­k­an, wa­bah bukan hanya me­nye­babkan anak sakit berat, tapi juga cacat, bah­kan kematian.

“Anak yang tidak diimunisasi bukan saja tidak punya kekebal­an tubuh, tapi juga bisa menu­larkan penyakit pada lingkung­an­nya se­hingga penyakit itu tetap ber­ke­liaran di masyarakat dan sulit di­eradikasi,” katanya.

Untuk mencegah wabah, ca­kupan imunisasi minimal harus mencapai 80 persen. Sementara untuk penyakit yang infeksinya lebih berat, cakupannya harus 100 persen agar tidak terjadi wabah.

Direktur Surveilans Imunisasi, Karantina dan Kesehatan Andi Mu­hadir mengatakan, tahun ini dise­pakati sebagai Tahun Inten­si­fikasi Imunisasi Rutin atau Intensifica­tion of Routine Im­mu­nization (IRI).

Hal ini sejalan dengan Gerakan Ak­se­lerasi Imunisasi Nasional (GAIN) yang bertujuan mening­kat­kan cakupan imunisasi lebih dari 80 persen dan pemerataan pelayanan imunisasi sampai ke setiap desa di Indonesia. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US