Penderita diabetes terus meÂningkat tiap tahunnya, maka, diÂperlukan manajemen diabetes yang mencangkup lima tata lakÂsana untuk menekan angka penÂderita diabetes. Pertama, edukasi berkelanjutan, di mana penderita diabetes mesti mengendalikan kadar gulanya sendiri.
Kedua, pengaturan makanan atau terapi nutrisi agar kadar gula darah tetap normal. DiaÂbeÂtisi (sebutan penderita diabetes) perlu mengatur pola makananÂnya, gizi seimbang dan sesuai keÂbutuhan kalori. Ketiga, meÂlaÂkuÂkan aktiviÂtas fisik, berupa olahraga yang dapat membantu meningkatkan produksi hormon inÂsulin, yang membantu menÂjaÂga kadar gula dalam darah kiÂsaran normal.
Keempat, apabila pengaturan nutrisi (diet) dan olahraga belum mencapai hasil yang memuaskan, dokter akan memberi terapi obat yang cocok. Ikuti anjuran agar diabetes terkendali, biasanya minum obat atau insulin.
Kepala Bagian Patologi Klinik Rumah Sakit Dharmais Jakarta Agus S Kosasih mengemukakan, diabetesi seharusnya memahami seluk-beluk dan cara pengobatan penyakit mematikan ini.
Menurutnya, pada penderita diabetes kerap tidak menyadari kadar glukosa darah yang tinggi dan kadang-kadang tidak diraÂsakan. “Jangan lupa bukan tingÂgiÂnya kadar glukosa darah yang berbahaya tetapi komplikasinya. Komplikasinya sulit diobati, sering menimbulkan cacat hingga kematian,†jelasnya.
Komplikasi diabetes, di antaÂranya gangguan pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) yang meÂnyeÂrang gangguan penglihatan, gangguan fungi ginjal, disfungsi ereksi dan gangguan fungsi saraf (neuropati).
Gangguan pembuluh darah besar (makrovaskuler) bisa meÂmicu stroke, penyakit jantung koroner hingga penyakit pemÂbuluh darah tepi. “Pencegahan leÂbih baik dari pengobatan, seÂtiÂdakÂnya peÂriksa gula darah setiap tiga bulan sekali,†kata Agus. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: