Gangguan pada kelenjar tiroid (kelenjar yang letaknya di leher, tepat di bawah jakun) seperti hipotiroid (kekurangan hormon tiroid) hingga kanker tiroid, ternyata lebih rentan terjadi pada wanita. Yang paling parah jika gangguan tersebut terjadi pada wanita hamil.
Kelainan pada kelenjar tiroid, utamanya hipotiroid, jangan diÂanggap sepele. Selain dampak terÂburuk seperti kematian, hipoÂtiroid yang tak segera ditangani juÂga dapat membahayakan keseÂhatan sekaligus masa depan janin.
Jika hipotiroid dibiarkan dalam jangka panjang, maka bukan tiÂdak mungkin janin yang dilahirÂkan akan menjadi generasi yang lambat dalam merespons, mengÂalami keterbelakangan mental, bahkan cacat fisik.
Guru Besar Universitas PadjaÂjaran Prof Sri Hartini KS Kariadi menjelaskan, penyebab hipoÂtiroid umumnya akibat kekuÂraÂngan yoÂdium dan radiasi saat pengobatan pada bagian leher, efek samping konsumsi obat dan keturunan.
“Kurangnya asupan hormon tiÂroid dalam tubuh wanita hamil akan turut mengganggu proses tumbuh kembang janin. Padahal, di usia dini hormon tiroid sangat berÂmanÂfaat meningkatkan perÂtumbuhan dan perkembangan kecerdasan,†jelas Prof Sri dalam diskusi keseÂhaÂtan di Jakarta, Selasa (17/7).
Wanita hamil yang mengalami kekurangan yodium berat, juga dapat melahirkan bayi kretin (caÂcat mental). “Mereka yang kekuÂrangan hormon tiroid di usia dini akan terkesan bodoh dan cebol,†lanjutnya.
Salah satu bentuk kelainan keÂlenjar tiroid yang utamanya haÂrus diwaspadai oleh wanita haÂmil adalah hipotiroid. Hipotiroid meÂrupakan kondisi di mana keÂlenjar tiroid tidak menghasilkan cukup banyak hormon tiroid seÂsuai yang dibutuhkan tubuh.
Hormon tiroid merupakan saÂlah satu hormon utama dalam metabolisme tubuh manusia. Hormon inilah yang mengÂhaÂsilÂkan energi dari zat gizi dan okÂsigen sehingga mampu meÂmeÂngaruhi fungsi seluruh sel, jaÂringan, dan organ dalam tubuh.
Ketua Kelompok Studi Tiroid Perkumpulan Endokrinologi InÂdonesia (PERKENI) Prof JoÂhan S Masjhur mengatakan, diÂagÂnosis disfungsi tiroid, baik hiÂpotiroid maupun hipertiroid (mengÂhaÂsilkan hormon tiroid berÂlebihan), perlu dilakukan seÂjak dini, yaitu melakukan peÂmeÂriksaan fisik dan tes darah, peÂmeÂrikÂsaan laboratoÂrium, UlÂtraÂÂsoÂnoÂgraphy (USG), scan-tiÂroÂid dan pengukuran kadar ThyÂroid StiÂmulating Hormone (TSH).
Beberapa gejala hipotiroid yang dapat dipahami, seperti muÂÂdah lelah, mengantuk, keÂdiÂngiÂnan, berat badan cenderung berÂtambah walau pola makan wajar dan olahraga teratur, deÂpresi konsÂtipasi, nyeri otot dan sendi, kulit kering bersisik, ramÂbut dan kuku menipis dan rapuh, penuruÂnan libido, serta gangÂguan mensÂtruasi.
Jika masalahnya adalah kekuÂrangan yodium, maka pemberian garam beryodium merupakan tinÂdakan paling murah dan muÂdah. Namun, bila asupan yodium dari makanan tak cukup untuk mengÂatasi hipotiroid, laÂkukan tindakan medis seperti pembeÂdahan, pemÂberian sinar radioaktif, atau terapi sulih hormon.
“Hanya 25-50 persen pasien hiÂpertiroid yang betul-betul semÂbuh sempurna dengan obat. MeÂrupaÂkan hal yang lazim atau tidak mengherankan jika ada orang deÂngan gangguan tiroid harus boÂlak-balik ke ke dokter, terganÂtung beÂrapa lama ia bisa bertahan deÂngan obat,†kata Prof Johan.
Meskipun penderita kanker tiÂroid memiliki harapan hidup yang lebih tinggi dari penyakit kanker lainnya, namun kanker terÂsebut bisa saja muncul kemÂbali. Untuk itu, pasien disaranÂkan untuk melaÂkukan pengobatÂan secara rutin.
Namun, gejala yang beragam mulai dari jantung berdebar hingÂga perubahan berat badan. Tak jarang pasien gangguan tiroid harus pergi ke berbagai dokter untuk mengetahui peÂnyakitnya.
“Nodul tiroid ini bisa tunggal atau lebih, kalau ada nodul ini diÂperiksa apakah ganas atau tiÂdak. Jika ganas, maka harus diÂlakukan pengangkatan agar tidak berubah menjadi kanÂker tiroid,†ujar Prof Johan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: