“Minum ARV juga bermanfaat untuk menurunkan risiko peÂnularan pada orang lain,†kata Ketua KeÂlompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS FK UI/RSCM, Samsuridjal Djauzi di seminar media yang bertema “Upaya Pencegahan dan Pemeriksaan Kasus HIV DigaÂlakkan Untuk Mempercepat TuÂrunnya MorÂbiditas dan MortaÂlitas†di Jakarta, Sabtu (30/6).
Kini, Pokdisus AIDS FK UI/RSCM mau mencanangkan peÂmeriksaan lima juta orang, seÂhingga dapat meningkatkan deÂtekÂsi kasus HIV/AIDS dan meÂlaÂkukan pengobatan ARV. “PeÂmeÂriksaan kasus HIV/AIDS perÂlu lebih digalakkan guna memÂperÂcepat turunnya angka kesakitan (morÂbiditas) dan angka kematian (moÂrÂtalitas) akibat penyakit meÂmaÂtikan itu di Indonesia,†kata Samsuridjal.
Setidaknya, jika deteksi sudah dilakukan, maka terapi moniÂtoring bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) penting untuk diketahui yaitu mengetahui jumÂlah virus HIV dalam darah lewat viral load.
Menurut dia, infeksi HIV diÂpreÂdiksi masih akan terus meÂningÂkat di Indonesia sampai tahun 2020. “Peran tenaga keseÂhatan untuk menganjurkan tes HIV penting untuk diagnosa dini. Juga perlu dilakukan peningkatan jaringan layanan terapi,†kata Samsuridjal yang juga menjabat Ketua Kolegium Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) ini.
Berdasarkan data RSCM, ada beberapa kasus infeksi oporÂtuÂnistik (penurunan kekebalan tubuh) yang bisa terjadi akibat virus HIV/AIDS, yaitu kanÂdiÂdiasis mulut esofagus 80,8 perÂsen, tuberkulosis 40,1 persen, siÂtoÂmegalovirus 28,8 persen, enÂsefalitis toksoplasma 17,3 persen, pneumonia P. carinii (PCP) 13,4 persen, herpes simpleks 9,6 perÂsen, M. avium kompleks (MAC) 4,0 persen, kriptospoÂrodiosi 2,0 persen dan histoplasÂmosis paru 2,0 persen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan, tahun 2015 dapat menurunkan infeksi baru HIV pada laki-laki dan peÂremÂpuan muda sebesar 50 persen, menurunkan infeksi baru HIV pada bayi dan anak 90 persen serta menurunkan angka keÂmatian terkait HIV 50 persen.
Dari 350 ribu orang Indonesia yang diduga menderita HIV, saat ini baru 70 ribu yang telah melaÂkukan tes. Sedangkan, 280 ribu lainnya belum diketahui. “Upaya menjangkau jumlah yang belum dites tersebut terus dilakukan. Salah satunya adalah menyeÂdiakan sarana pemeriksaan yang mudah dilakukan, mudah diakses dan tersedia sampai ke daerah pedesaan,†ungkapnya.
Ketua PAPDI itu juga menilai, upaya pencegahan ini harus dibarengi ketersediaan alat peÂmeÂriksaan diagnostik di rumah sakit dan laboratorium pemerintah, juga harus signifikan, terutama di daerah-daerah dengan angka penderita HIV yang tinggi.
“Layanan di daerah tertinggal harus sama baiknya dengan di kota besar,†kata dokter yang juga mengajar di Departemen Ilmu Penyakit FK UI itu. Misalnya, Papua Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, Batam (Kepulauan Riau), Jakarta, yang termasuk di daÂlamnya dengan angka pengidap HIV tertinggi. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: