Keputusan bersejarah ini mencetak lembaran baru sebagai insiden pertama kalinya seorang wakil presiden meletakkan jabatannya di negara kawasan Afrika Timur tersebut.
Langkah drastis ini diambil hanya berselang beberapa pekan setelah ia dikabarkan mengalami keretakan hubungan yang cukup serius dengan Presiden Samia Suluhu Hassan.
Politisi berusia 54 tahun itu memutuskan lengser kurang dari sepuluh bulan setelah resmi dilantik pada November lalu. Pelantikan tersebut sebelumnya merupakan hasil dari pemilu kontroversial pada Oktober tahun lalu yang diwarnai berbagai sengketa serta protes keras publik.
Melalui akun media sosialnya, Nchimbi mengungkapkan bahwa ia memilih mundur demi memenuhi janji pribadinya kepada sang presiden jika sewaktu-waktu diinginkan untuk mundur demi perubahan.
Keretakan hubungan di antara kedua pemimpin puncak ini diduga kuat bermula dari pandangan politik yang berbeda, terutama setelah Nchimbi secara terbuka mendesak masyarakat Tanzania untuk memperjuangkan konstitusi baru sebelum 2030.
Ia menilai reformasi konstitusi tersebut sangat esensial untuk mengatasi berbagai bentuk ketidakadilan, memperkuat penegakan hak asasi manusia, serta memperbaiki tata kelola demokrasi di negara tersebut.
Sebagai informasi, Nchimbi bukanlah figur sembarangan dalam peta politik nasional Tanzania.
Ia memiliki rekam jejak panjang sebagai mantan Sekretaris Jenderal partai berkuasa Chama Cha Mapinduzi (CCM) serta pernah memegang sejumlah portofolio penting seperti Menteri Informasi, Menteri Dalam Negeri, hingga tugas diplomatik sebagai duta besar.
Dengan mundurnya Nchimbi dari panggung pemerintahan, ia berencana sepenuhnya pensiun dari kehidupan publik.
BERITA TERKAIT: