Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan serangan terbaru Houthi menjadi ancaman serius terhadap integritas wilayah, kedaulatan, dan infrastruktur Arab Saudi.
Menurut Fidan, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan memiliki komitmen pertahanan bersama berdasarkan Mecca Agreement on Joint Defense. Ketiga negara juga telah melakukan konsultasi terkait perkembangan situasi keamanan di kawasan.
“Jika kebutuhan militer muncul, terutama di bidang teknis tertentu, kami tidak akan kesulitan untuk memenuhinya,” kata Fidan, dikutip Senin, 21 September 2026.
Fidan tidak merinci bentuk bantuan maupun sistem persenjataan yang kemungkinan akan diberikan Ankara kepada Riyadh.
Dia mengatakan Turki telah mengecam serangan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang menyasar infrastruktur minyak dan target yang berkaitan dengan Mekkah.
Perjanjian pertahanan bersama Turki, Arab Saudi, dan Pakistan ditandatangani di Mekkah pada 7 Agustus 2026.
Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, sekaligus membuka ruang bagi pendalaman kerja sama pertahanan, termasuk industri pertahanan, pengembangan teknologi bersama, serta produksi persenjataan dan peralatan militer.
Fidan mengatakan mekanisme aliansi tersebut kini mulai diterapkan, dengan persiapan sekretariat dan markas militer yang hampir rampung.
Aliansi itu disebut sebagai “a game-changing platform” dan mengatakan Turki, Arab Saudi, serta Pakistan nantinya akan membahas kemungkinan negara lain di kawasan bergabung.
Menurutnya, tujuan aliansi adalah membangun mekanisme pertahanan kolektif regional, bukan membentuk blok yang ditujukan terhadap negara tertentu.
BERITA TERKAIT: