Pertemuan tersebut diikuti delapan negara, yakni Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Türkiye, dan Pakistan.
Menlu Sugiono menekankan bahwa upaya perdamaian harus menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat Palestina, terutama di tengah situasi Gaza yang terus memburuk.
“Kita berkomitmen untuk tegaknya perdamaian, tetapi rakyat Palestina belum melihat perubahan nyata. Dalam jangka pendek, yang mereka butuhkan adalah mengalirnya bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, dan berhentinya pembunuhan di Gaza,” tegasnya.
Sugiono juga menilai negara-negara Group of Eight perlu terus menyuarakan pesan yang tegas dan seirama, sekaligus menjaga dorongan bersama untuk mewujudkan perdamaian Palestina.
“Kita harus menyampaikan pesan yang kuat. Kita ingin melihat bahwa upaya yang kita lakukan benar-benar menghasilkan kemajuan dan perubahan bagi rakyat Palestina,” pungkas Menlu Sugiono.
Indonesia, kata Sugiono, berkomitmen untuk terus melakukan pendekatan dengan berbagai mitra demi mendorong kemajuan proses perdamaian di Palestina.
Partisipasi aktif masyarakat Palestina juga menjadi salah satu aspek utama agar perdamaian yang berkelanjutan dapat terwujud.
Pertemuan tingkat menteri Group of Eight merupakan kelanjutan dari koordinasi delapan negara Arab dan Islam yang diinisiasi pada High-Level Week SMU ke-80 PBB pada 2025 untuk mencari langkah konkret penyelesaian isu Palestina.
Sejak saat itu, koordinasi terus diperkuat melalui pelibatan berbagai mitra, termasuk Amerika Serikat, guna menjaga momentum diplomatik dan mendorong langkah bersama menuju perdamaian di Gaza.
BERITA TERKAIT: