Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejumlah pejabat pemerintahan Trump meyakini pemerintahan Netanyahu berpotensi mengalami pergantian. Situasi itu mendorong AS melakukan kontak informal dengan para pemimpin oposisi sebagai bagian dari langkah antisipatif terhadap dinamika politik di Israel.
Beberapa tokoh oposisi Israel yang disebut menjalin komunikasi dengan Washington antara lain mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett yang kini memimpin Partai Together, serta Gadi Eisenkot selaku ketua Partai Yashar.
Menanggapi kabar tersebut, Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera menilai hubungan politik yang dibangun atas dasar kepentingan kekuasaan semata tidak akan bertahan lama.
"Persekutuan yang dasarnya dunia sangat rapuh. Apalagi keuntungan kekuasaan yang kotor," kata Mardani lewat akun X miliknya, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, Netanyahu selama ini telah menunjukkan sikap yang tidak dapat dibenarkan dalam konflik Palestina.
"Netanyahu bukan hanya berlumuran darah, tapi juga zalim dan penindas yang kejam," tegasnya.
Mardani menilai jika hubungan politik antara Trump dan Netanyahu benar-benar mengalami keretakan, maka hal itu dapat menjadi momentum positif bagi penyelesaian konflik di Timur Tengah.
"Jika Trump akhirnya pecah kongsi, maka itu membahagiakan banyak pihak. Buka pintu Rafah, merdekakan Palestina, dan dunia akan kembali tersenyum," pungkasnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: