Peringatan yang digagas oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) ini pertama kali dirayakan secara resmi pada 1973 dengan mengusung slogan "Hanya Satu Bumi".
Kini, momentum tersebut telah berkembang menjadi platform global terbesar untuk memobilisasi kesadaran terkait isu-isu krusial, mulai dari polusi udara dan plastik hingga krisis ketersediaan air bersih.
Di tengah ancaman ekologis saat ini, peringatan tersebut menjadi sangat relevan karena bumi terus mengirimkan sinyal bahaya melalui rekor suhu ekstrem, kebakaran hutan yang dahsyat, hingga mencairnya gletser.
Batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius kini sangat rentan untuk dilampaui.
Hal ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman di masa depan, melainkan krisis masa kini yang sedang mengubah drastis tatanan kehidupan di planet kita.
Pada perayaan tahun ini, Republik Azerbaijan didapuk menjadi tuan rumah global dengan fokus utama pada penanganan perubahan iklim.
Negara yang berada di persimpangan Timur dan Barat ini tengah gencar mengejar pertumbuhan hijau, salah satunya melalui komitmen untuk memangkas emisi sebesar 40 persen pada 2035.
Selain itu, Azerbaijan juga menargetkan peningkatan suplai energi terbarukan hingga 30 persen pada 2030 dan telah mengambil langkah tegas melarang peredaran kantong plastik sekali pakai melalui reformasi legislatifnya.
Kendati ancaman kerusakan lingkungan kian mengkhawatirkan, asa untuk pemulihan tetap menyala melalui kekuatan aksi kolektif masyarakat. Transisi nyata menuju energi bersih dan upaya restorasi ekosistem membuktikan bahwa solusi iklim telah mulai mengakar di berbagai penjuru dunia.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 pada akhirnya menjadi pengingat sekaligus tantangan: sinyal apa yang akan kita berikan sebagai balasan untuk menyelamatkan bumi kita satu-satunya?
BERITA TERKAIT: