Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan kemarin, Kamis 4 Juni 2026, harga batu bara untuk kontrak Juli ditutup melemah 0,64 persen ke level 147,05 Dolar AS per ton.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa hari Rabu yang sempat melonjak signifikan sebesar 2,21 persen.
Penurunan harga batu bara kali ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah global. Sebagai sesama komoditas energi yang saling menggantikan atau substitusi, pergerakan harga minyak dan batu bara memang memiliki keterikatan yang kuat.
Di pasar minyak, harga ambles sekitar 3 persen pada Kamis setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih untuk menghindari perang skala penuh dengan Iran, meskipun ketegangan dan bentrokan kecil masih mewarnai hubungan kedua negara belakangan ini.
Akibat sentimen tersebut, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,1 persen dan parkir di level 93,04 Dolar AS per barel, sementara minyak Brent Crude yang menjadi acuan internasional menyusut 2,8 persen ke posisi 95,03 per barel Dolar AS.
Sentimen negatif dari pasar minyak rupanya lebih dominan ketimbang angin segar yang datang dari Washington.
Pada hari yang sama, Presiden Trump sebenarnya mengumumkan kebijakan besar dengan memanfaatkan undang-undang era Perang Dingin untuk mengalokasikan dana sebesar 700 juta Dolar AS demi menyokong berbagai proyek batu bara.
Kebijakan ini merupakan bagian dari ambisi terbaru Trump untuk meningkatkan pemanfaatan batu bara, yang dikenal sebagai bahan bakar fosil dengan tingkat polusi tertinggi.
Trump merinci bahwa stimulus jumbo tersebut bakal digunakan untuk menjaga keberlangsungan operasional lebih dari selusin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di 10 negara bagian, mendukung 42 tambang batu bara, serta mendanai pembangunan dua PLTU baru dan satu terminal ekspor batu bara.
Suntikan dana ini digulirkan lewat Defense Production Act tahun 1950, sebuah regulasi yang memberikan hak darurat kepada Presiden AS untuk mengendalikan sekaligus menyokong industri domestik yang dianggap penting bagi kepentingan nasional.
Kendati Trump agresif mendorong pemulihan sektor ini, industri batu bara AS justru kian menyusut.
Saat ini, volume produksi batu bara di AS berada di bawah setengah dari level tahun 2008. Jumlah pekerja tambang juga telah merosot drastis hingga lebih dari 90 persen jika dibandingkan dengan kondisi seabad silam. Dominasi pasokan listrik di AS kini telah beralih ke gas alam dan energi terbarukan yang dinilai jauh lebih murah.
Sementara itu dari Asia, kabar mengenai harga batu bara termal di pelabuhan utara China terpantau mulai bergerak stabil setelah sebelumnya sempat menguat akibat kendala pasokan.
Saat ini, perhatian pelaku pasar tidak lagi tertuju pada masalah suplai, melainkan telah bergeser pada ketidakpastian permintaan di masa mendatang.
Pasokan batu bara di sana berangsur pulih seiring dengan tambang-tambang yang sempat terganggu kembali beroperasi setelah lolos inspeksi keselamatan. Di sisi lain, tingginya cadangan batu bara di pelabuhan membuat pelaku pasar ragu bahwa harga akan terus menguat.
BERITA TERKAIT: