Permintaan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyatakan pihaknya akan mematuhi arahan Washington.
“Presiden Trump meminta kami untuk menunda serangan di masa mendatang, dan kami melakukannya,” kata Netanyahu dalam konferensi pers, seperti dikutip dari
Al Mayadeen, Jumat, 20 Maret 2026.
Dalam keterangannya, Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel bertindak sendiri dalam serangan terhadap fasilitas pemrosesan yang terkait dengan ladang gas South Pars milik Iran, salah satu cadangan gas alam terbesar di dunia.
Serangan itu langsung mengguncang pasar energi global. Data perdagangan menunjukkan harga gas di Eropa melonjak 6 persen, menembus 650 dolar AS per 1.000 meter kubik untuk pertama kalinya sejak 9 Maret, mencerminkan kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan.
Sebagai respons, Iran melancarkan operasi terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk dan Israel.
Pada 19 Maret, kilang minyak di Haifa dilaporkan dihantam rudal di dua titik dalam kompleksnya, menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah kota.
Tak hanya itu, pusat energi utama Qatar di Ras Laffan juga diserang dan mengalami kerusakan yang besar, sebagaimana dikonfirmasi QatarEnergy.
BERITA TERKAIT: