Gencatan senjata dimediasi oleh Saudi Arabia, Turkey, dan Qatar, sebagai upaya meredakan konflik yang telah menelan ratusan korban jiwa dalam beberapa pekan terakhir.
Momentum Idulfitri dimanfaatkan sebagai celah diplomatik untuk menghentikan sementara eskalasi yang kian memanas di perbatasan kedua negara.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menegaskan bahwa penghentian sementara operasi militer akan berlangsung hingga Selasa, 24 Maret 2026.
"Pakistan menyampaikan isyarat ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam," ungkapnya, seperti dikutip dari
Independent News, Kamis, 19 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa operasi akan kembali dilanjutkan jika terjadi serangan lintas batas, serangan pesawat tak berawak, atau insiden terorisme apa pun di dalam Pakistan.
Dari pihak Kabul, juru bicara pemerintah Zabiullah Mujahid mengonfirmasi adanya gencatan senjata, meski tidak merinci batas waktunya. Ia juga menyampaikan peringatan tegas bahwa Afghanistan akan merespons dengan berani terhadap setiap agresi jika terjadi ancaman.
Sebelumnya, pemerintah Afghanistan menuding serangan udara Pakistan pada Senin sebagai penyebab kematian 408 orang dan melukai 265 lainnya.
Sementara United Nations mencatat angka korban tewas mencapai 143 orang. Islamabad membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa pihaknya hanya menyasar target militer bukan fasilitas sipil.
Serangan yang diduga menghantam rumah sakit rehabilitasi narkoba Omid di Kabul itu menjadi salah satu yang paling mematikan dalam rangkaian konflik terbaru.
Ratusan warga pada Kamis, 19 Maret 2026, menghadiri pemakaman massal yang digelar dengan penggalian kuburan menggunakan alat berat, sementara relawan Afghan Red Crescent Society mengangkut peti jenazah di bawah guyuran hujan.
BERITA TERKAIT: