Koordinator Kemanusiaan dan Penduduk PBB di Haiti, Ulrika Richardson, menyatakan kekerasan geng telah memutus ibukota dari penghasil makanan di negara bagian selatan. Hal tersebut membuat kondisi rawan pangan semakin meningkat.
"Totalnya 4,7 juta orang atau hampir setengah dari populasi Haiti mengalami kerawanan pangan akut tingkat tinggi. Sementara itu, 20 persen rumah tangga atau sekitar 19.200 orang di Cite Soleil, menderita kelaparan," ujarnya seperti dimuat
US News pada Sabtu (15/10).
Kepala HAM Haiti, Nada Al-Nashif menyatakan tak hanya soal keterbatasan pangan, tindakan geng Haiti semakin meresahkan karena tak segan melakukan tindakan amoral yang melanggar hukum dan kemanusiaan.
"Para geng menggunakan kekerasan seksual untuk menanamkan rasa takut. Jumlah kasus yang meningkat dari hari ke hari membuat krisis kemanusiaan dan HAM di Haiti menjadi semakin dalam," ungkapnya.
Sejauh ini, seruan bantuan internasional dari Perdana Menteri Ariel Henry yang disiarkan pekan lalu, memperoleh respon yang cukup baik dari PBB.
Khususnya dari badan pembangunan AS (USAID) yang menyatakan telah mengirim Tim Tanggap Bantuan Bencana ke Haiti pada Jumat (14/10).
Tim tersebut dikerahkan untuk membantu Haiti menghadapi bencana kelaparan dengan menghadirkan berbagai tenaga ahli dan spesialis untuk penyakit menular, ahli gizi, dan ahli logistik.
BERITA TERKAIT: