Studi dilakukan dengan membentuk tim independen yang akan memulai kerjanya pada musim gugur tahun ini selama sembilan bulan. Dengan biaya tidak lebih dari 100 ribu dolar AS atau Rp 1,5 miliar, studi ini dilakukan terbuka, tanpa data militer rahasia yang digunakan.
Kepala misi sains NASA, Thomas Zurbuchen mengakui mungkin banyak pihak seperti komunitas ilmiah tradisional yang akan melihat NASA berusaha "menjual" dengan menyelidiki topik kontroversial. Tapi ia menegaskan bahwa itu tidaklah benar.
"Kami tidak menghindar dari risiko reputasi. Keyakinan kuat kami adalah bahwa tantangan terbesar dari fenomena ini adalah bahwa ini bidang yang miskin data," kata Zurbuchen, seperti dikutip
NZ Herald, Jumat (10/6).
NASA menganggap ini sebagai langkah pertama untuk mencoba menjelaskan penampakan misterius di langit yang dikenal sebagai
unidentified aerial phenomena (UAP) atau fenomena udara yang tidak dikenal.
NASA mengatakan tim tersebut akan dipimpin oleh astrofisikawan David Spergel.
Dalam sebuah konferensi pers, Spergel mengatakan satu-satunya prasangka yang masuk ke dalam penelitian ini adalah bahwa UAP kemungkinan akan memiliki banyak penjelasan.
"Saya menghabiskan sebagian besar karir saya sebagai ahli kosmologi. Saya dapat memberitahu Anda bahwa kita tidak tahu apa yang membentuk 95 persen dari alam semesta. Jadi ada hal-hal yang kita tidak mengerti," ujar Spergel.
BERITA TERKAIT: