Langkah tersebut dinilai sebagai upaya New Delhi untuk mendapatkan kembali Sri Lanka yang dalam beberapa tahun terakhir berada di bawah pengaruh China.
"Kami masih dapat memberi mereka hingga 2 miliar dolar AS dalam pertukaran dan dukungan," kata sumber senior di pemerintahan, seperti dikutip
Reuters, Rabu (13/4).
Sumber juga menyoroti peringatan Sri Lanka pada Selasa (12/4) terkait default pada pembayaraan utang yang mengkhawatirkan.
Menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak merdeka pada 1948, Sri Lanka berada di ambang default utang pertamanya.
Sejauh ini Sri Lanka telah meminta negara-negara sahabat, termasuk India dan China untuk jalur kredit, makanan dan energi.
Hingga saat ini, India telah memberikan 1,9 miliar dolar AS ke Sri Lanka dalam bentuk pinjaman, jalur kredit, dan pertukaran mata uang. Sri Lanka juga mencari jalur kredit 500 juta dolar AS lagi untuk bahan bakar.
Sementara China telah memperpanjang pinjaman sindikasi 1,3 miliar dolar AS dan swap dalam mata uang 1,5 miliar dolar AS, sementara negosiasi sedang berlangsung untuk lebih banyak pinjaman dan jalur kredit.
Salah satu sumber mengatakan New Delhi ingin Sri Lanka mengurangi ketergantungannya pada China.
Sri Lanka sendiri memiliki utang luar biasa sekitar 3,5 miliar dolar AS dengan China, atau 10,8 persen dari total utang negara itu.
"Kami ingin mereka mengurangi tingkat utang mereka dari China dan kami ingin menjadi mitra yang lebih kuat," kata sumber itu.
Sumber lain mengatakan, India juga telah mengirim kapal dengan gula, beras dan gandum. Hal yang tidak dilakukan oleh China ketika Sri Lanka menghadapi kelangkaan makanan akibat krisis.
BERITA TERKAIT: