Namun jurubicara Kementerian Pendidikan, Aziz Ahmad Rayan mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi siswa perempuan sebelum kembali ke kelas.
"Semua sekolah akan dibuka untuk semua anak laki-laki dan perempuan. Tetapi ada beberapa syarat untuk anak perempuan,†ujarnya, seperti dikutip
Reuters.
Ia mengatakan, murid perempuan harus dipisahkan dengan murid laki-laki. Selain itu, mereka juga hanya akan belajar dengan guru perempuan.
Sementara di beberapa daerah pedesaan di mana ada kekurangan guru perempuan, guru laki-laki yang lebih tua akan diizinkan untuk mengajar anak perempuan.
"Tidak ada sekolah yang tutup tahun ini. Kalau ada sekolah yang tutup, itu tanggung jawab Kemendikbud untuk membukanya," tambah Rayan.
Mengizinkan anak perempuan dan perempuan masuk ke sekolah dan perguruan tinggi telah menjadi salah satu tuntutan utama masyarakat internasional terhadap Taliban sejak menggulingkan pemerintah yang didukung Barat Agustus lalu.
Sebagian besar negara sejauh ini menolak untuk secara resmi mengakui Taliban, di tengah kekhawatiran atas perlakuan mereka terhadap anak perempuan dan perempuan, serta tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap mantan tentara dan pejabat dari pemerintahan yang digulingkan.
Taliban telah berjanji untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, dan mengatakan mereka tidak membalas dendam pada mantan musuh mereka.
Taliban mengatakan mereka menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan hukum Islam dan adat setempat. Tetapi banyak perempuan telah melaporkan pembatasan akses ke kehidupan publik, termasuk pekerjaan, memaksa beberapa untuk keluar dari angkatan kerja.
BERITA TERKAIT: