Pertemuan Presiden Israel, Isaac Herzog dengan Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoÄŸan Rabu (9/3) lalu, adalah momentumnya. Menjadi pertemuan pertama pemimpin kedua negara dalam 14 tahun terakhir.
Wakil Ketua Knesset, Ghaida Rinawie Zoabi mengatakan, hubungan bilateral antara Turki dan Israel telah mencair dengan cepat, pasca peristiwa terbunuhnya sembilan aktivis kemanusiaan Turki yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza oleh tentara Israel tahun 2010 lalu.
“Kami sangat bercita-cita untuk melanjutkan apa yang (terhenti) beberapa tahun sebelumnya dalam hal kerjasama dan kemitraan, terutama di bidang pariwisata, perdagangan dan ekonomi,†ujar Zoabi dalam wawancara eksklusif dengan
Daily Sabah, Minggu (13/3).
Zoabi sangat optimis tentang perubahan positif hubungan Israel dan Turki. Ia mengatakan, kunjungan dan pertemuan Presiden Israel dengan Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoÄŸan membuahkan hasil sangat positif.
“Saya pikir juga kunjungan menteri luar negeri Turki (ke Israel) akan menjadi langkah yang disambut baik,†ujar Zoabi seperti diberitakan
Kantor Berita RMOLNetwork.
Sebelum melakukan lawatan bersejarah itu, Presiden Israel mengakui hubungan negaranya dengan Turki mengalami pasang surut. Ia akan mencoba untuk memulai kembali hubungan dan membangunnya dengan cara yang terukur dan hati-hati, dan dengan saling menghormati.
Herzog tiba dengan pesawat khusus yang bertuliskan "perdamaian", "masa depan" dan "kemitraan" dalam bahasa Ibrani, Turki, dan Inggris.
Sementara Turki menyatakan, tidak akan ada perubahan pada posisi mereka terhadap Palestina, meskipun ada upaya normalisasi hubungan dengan Israel.
Turki dan Israel saling menarik pulang duta besarnya pada tahun 2010, setelah pasukan Israel menyerbu kapal pembawa bantuan kemanusian yang hendak menuju Gaza, Palestina. Serbuan itu mengakibatkan kematian sembilan aktivis kemanusiaanTurki.
Hubungan Turki dan Israel kembali memburuk tahun 2018, ketika Amerika Serikat memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Turki sekali lagi memanggil pulang duta besarnya, yang ditanggapi Israel dengan cara yang sama.
Hingga saat ini kedua negara itu belum menempatkan kembali duta besar mereka.
BERITA TERKAIT: