Menurut pernyataan Kementerian Keuangan Israel, kerugian tersebut dipicu oleh penerapan status darurat “merah” oleh Komando Front Dalam Negeri Israel.
"Di bawah pembatasan level merah oleh Komando Front Dalam Negeri yang membatasi perjalanan ke tempat kerja, menutup sekolah, dan memobilisasi pasukan cadangan, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 9,4 miliar shekel per pekan,” kata kementerian itu, dikutip dari
Daily Sabah, Jumat, 6 Maret 2026.
Kementerian Keuangan kemudian meminta agar status darurat diturunkan menjadi level “oranye”, yang memungkinkan aktivitas kerja lebih longgar. Jika aturan ini diterapkan, kerugian ekonomi diperkirakan turun menjadi sekitar 4,3 miliar shekel per pekan.
Konflik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada Sabtu lalu, yang kemudian memicu serangan balasan di berbagai wilayah Israel dan kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini juga berdampak pada terganggunya ekspor energi dari kawasan Teluk.
Pejabat AS dan Israel memperkirakan operasi militer tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu, sehingga potensi kerugian ekonomi Israel bisa terus bertambah.
Sebelumnya, ekonomi Israel masih tumbuh 3,1 persen pada 2025, meski terdampak perang di Gaza. Setelah tercapainya gencatan senjata pada Oktober lalu, pertumbuhan ekonomi Israel pada 2026 sempat diproyeksikan bisa melampaui 5 persen, namun konflik terbaru dengan Iran berpotensi mengganggu proyeksi tersebut.
BERITA TERKAIT: