Luhut Usul Pembentukan Satgas Khusus Imbas Konflik Israel-Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Jumat, 06 Maret 2026, 01:39 WIB
Luhut Usul Pembentukan Satgas Khusus Imbas Konflik Israel-Iran
Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Dokumentasi Kemenko Marves)
rmol news logo Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan mengusulkan pembentukan satuan tugas (task force) khusus untuk menyusun kajian komprehensif terkait strategi ketahanan energi nasional di tengah konflik Israel-lran.

Menurut Luhut, pemerintah perlu melakukan perhitungan secara cermat terhadap berbagai aspek ketahanan energi, khususnya setelah Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 30 persen perdagangan minyak global.

“Saya kira pemerintah harus membuat satu task force sendiri untuk membuat studi yang cermat sebagai salah satu alternatif strategi kita,” ujar Luhut di Jakarta pada Kamis, 5 Maret 2026.

Ia mengatakan pemerintah perlu menghitung cadangan energi nasional, potensi lonjakan harga minyak dunia, hingga dampaknya terhadap fiskal negara.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, cadangan energi Indonesia disebut hanya mampu untuk 18 hingga 30 hari. Untuk itu, hitungan tersebut perlu perlu diukur secara akurat.

“Nah kalau sudah kita tahu misalnya katakanlah 30 hari, dari sekarang harus kita lihat dari mana kita harus impor minyak, berapa costnya, berapa selisihnya, apa dampaknya pada APBN,” tuturnya.

Ia menilai kajian tersebut penting agar pemerintah memiliki gambaran jelas mengenai kebutuhan impor energi jika pasokan global terganggu, termasuk menghitung biaya tambahan yang harus ditanggung  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat lonjakan harga minyak dunia.

“Ekonomi kita juga bisa akan terkena juga kalau harga minyak tiba-tiba naik bertahap sampai 100 dolar. Sekarang 78 ya. Padahal kita bikin di APBN kita 70. Jadi ini yang harus kita amati. Kalau sampai ini berkelanjutan lama, harga minyak naik, ini betul-betul harus kita cermati,” tegasnya.

Saat ini, pemerintah juga mulai menjajaki sumber pasokan energi lain di luar pemasok yang selama ini digunakan. Sejumlah negara disebut menjadi alternatif, di antaranya AS, Venezuela, hingga negara-negara di Afrika.

Namun ia mengingatkan bahwa tantangan logistik juga harus diperhitungkan, terutama karena situasi keamanan jalur laut global yang ikut terpengaruh oleh konflik di Timur Tengah.

“Apakah (juga) dari negara-negara Afrika. Tapi kan laut lagi masalah angkutannya. Jadi ya mesti dicermati lah dengan baik,”tambahnya.

Konflik itu, lanjut mantan Menko Marves ini diprediksi berlangsung lama, terutama setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam operasi gabungan Israel dan AS.

"Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan karena sudah berapa pemimpin mereka (Iran) yang dibunuh, tidak ada tanda-tanda melemah," tandas Luhut.rmol news logo article


Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA