Baru-baru ini, Australia mengumumkan rencana untuk menambah sekitar 18.000 tentara pada 2040, sehingga totalnya menjadi 80.000 orang. Rencana ini diperkirakan memakan biaya hingga 27 miliar dolar AS.
Di samping itu, Australia juga akan membangun pangkalan kapal selam baru untuk menyambut kapal selam nuklir sebagai hasil kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris dalam AUKUS.
Secara terang-terangan, Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton menyebut peningkatan kekuatan dilakukan untuk menghadapi China yang semakin besar di Indo-Pasifik.
Namun seorang pakar pertahanan dari Rand Corporation, Derek Grossman menilai, langkah tersebut akan memperburuk hubungan Australia dan China, dan mungkin lebih buruk daripada hubungan AS dan China.
"Sepertinya atmosfer di sekitar China (dan) Australia telah mencapai tingkat yang tajam," ujarnya.
Ketegangan antara kedua negara dimulai ketika Australia pada April 2020 menyerukan penyelidikan terhadap penanganan Covid-19. Kemudian pada bulan November tahun itu, China mendamparkan lebih dari 50 kapal batubara Australia di dekat pelabuhannya, mengenakan tarif pada serangkaian impor pertanian Australia.
Beberapa analis percaya bahwa China dan Australia telah memasuki "spiral", di mana tindakan satu pihak memicu reaksi dari pihak lain.
Peneliti keamanan maritim di Nanyang Technological University, Collin Koh berpendapat, langkah Australia akan memancing tindakan China lainnya.
"Penumpukan China setidaknya sebagian sebagai tanggapan terhadap pembangunan Australia sendiri," kata Koh.
BERITA TERKAIT: