Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu malam, 11 Januari 2026, waktu setempat, Trump menegaskan pemerintahannya memantau situasi di Iran dengan sangat serius.
“Kami melihat ini dengan sangat serius. Militer juga sedang meninjaunya, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan,” kata Trump, dikutip dari Al-Jazeera, Senin 12 Januari 2026.
Trump juga mengklaim bahwa para pemimpin Iran telah menghubungi AS untuk “bernegosiasi” setelah ancaman aksi militer dilontarkan. Menurutnya, sebuah pertemuan sedang disiapkan. Namun, ia menambahkan bahwa AS bisa saja bertindak sebelum pertemuan tersebut terlaksana. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Teheran.
Sebelumnya, para pemimpin Iran memperingatkan keras agar tidak ada campur tangan militer asing. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan bahwa jika Iran diserang, maka Israel serta seluruh pangkalan dan kapal militer AS akan menjadi target yang sah.
Gelombang protes di Iran dimulai pada 28 Desember, ketika para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko mereka sebagai protes terhadap anjloknya nilai mata uang rial.
Trump dijadwalkan bertemu para penasihat seniornya pada Selasa untuk membahas opsi terhadap Iran. Menurut laporan media AS, opsi yang dibahas mencakup serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, pengetatan sanksi, hingga dukungan daring bagi kelompok anti-pemerintah.
BERITA TERKAIT: