Bertemu di Qatar pada Sabtu (5/2), kelompok-kelompok oposisi yang sebagian besar berbasis di luar Suriah itu berkomitmen untuk memperbaiki masa lalu.
Pertemuan tersebut dilakukan di tengah pengaruh oposisi yang semakin berkurang selama beberapa tahun terakhir, di tengah meningkatnya dukungan dari Iran dan Rusia terhadap pemerintahan Assad.
Mantan perdana menteri Assad, Riad Hijab, juga turut menghadiri pertemuan tersebut setelah membelot ke oposisi.
"Menilai kemajuan kita dan memperbaiki kesalahan yang telah kita buat di sepanjang jalan, sulit untuk mencapai negara yang bersatu, bebas, dan demokratis," ujarnya, seperti dikutip
Al Arabiya.
Pemimpin oposisi tidak mengatakan kesalahan apa yang telah dibuat, tetapi rombongannya mengatakan partai-partai oposisi telah gagal membangun komunikasi dengan warga Suriah.
Hajib mengatakan koordinasi dengan warga sipil menjadi penting bagi oposisi untuk menerapkan rencana yang efektif untuk melawan pemerintah Assad.
Kepala Koalisi Nasional untuk Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah, Salem Al Meslet menekankan perlunya mengirim pesan kepada semua warga Suriah dan membuat rencana baru.
Perang Suriah selama lebih dari satu dekade terakhir telah menewaskan hampir setengah juta orang dan mendorong arus migran akibat konflik terbesar sejak Perang Dunia II.
BERITA TERKAIT: