Insiden berdarah tersebut terjadi pada Rabu (17/11), ketika ribuan orang Sudan turun ke jalan menolak kudeta militer pada 25 Oktober lalu.
Aksi demonstrasi bukan hanya terjadi di Khartoum, namun juga di Kota Bahri dan Omdurman. Para pengunjuk rasa menuntut penyerahan penuh kekuasaan kepada otoritas sipil, dan agar para pemimpin kudeta militer diadili.
Dalam laporan
Reuters, saksi mata mengungkap pasukan keamanan menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk mencegah demonstrasi di ketiga kota, sementara komunikasi telepon seluler terputus.
"Pasukan kudeta menggunakan peluru tajam di berbagai daerah di ibukota dan ada puluhan luka tembak, beberapa di antaranya dalam kondisi serius," kata Komite Pusat Dokter Sudan, sebuah kelompok yang bersekutu dengan gerakan protes.
Kematian terkonsentrasi di Bahri. Televisi pemerintah mengatakan ada korban luka di antara pengunjuk rasa dan polisi.
Sebagai tanggapan, pengunjuk rasa membangun barikade yang luas, mengosongkan jalan-jalan lalu lintas.
"Rakyat lebih kuat, dan mundur tidak mungkin," begitu seruan para pengunjuk rasa di jalan utama Khartoum sembari membakar ban.
Di media sosial, foto-foto aksi protes di kota-kota lain, termasuk Port Sudan, Kassala, Dongola, Wad Madani dan Geneina juga bermunculan.
Pasukan keamanan dilaporkan dikerahkan secara besar-besaran di jalan utama dan persimpangan, dan jembatan di seberang Sungai Nil ditutup.
BERITA TERKAIT: