Menteri Keuangan Nicolas Kazadi menjelaskan, peninjauan itu merupakan tindak lanjut pernyataan Tshisekedi pada Mei yang khawatir jika beberapa kontrak pertambangan tidak cukup menguntungkan Kongo.
Sebagai produsen kobalt terbesar di dunia, sekaligus penambang tembaga terkemuka di Afrika, Kongro pada bulan ini membentuk komisi untuk meninjau kembali cadangan dan sumber daya tembaga dan kobalt di tambang China Molybdenum, Tenke Fungurume, untuk secara adil mengklaim hak-haknya.
Kepada
Reuters pada Senin (30/8), Kazadi juga menyebut pemerintah sedang mengevaluasi kesepakatan dengan perusahaan milik negara China Sinohydro Corp dan China Railway Group Limited, demi memastikan kesepakatan yang adil dan efektif.
Kesepakatan dengan Sinohydro dan China Railway sendiri dilakukan pada masa pemerintahan sebelum Tshisekedi, yaitu mantan Presiden Joseph Kabila. Ketika itu, Sinohydro dan China Railway setuju untuk membangun jalan dan rumah sakit dengan imbalan 68 persen saham di usaha patungan tembaga dan kobalt, Sicomines.
Kesepakatan itu merupakan bagian penting dari rencana pembangunan Kabila untuk Kongo. Tetapi para kritikus mengeluhkan kurangnya transparansi, meski beberapa infrastruktur telah dibangun.
"Kami melihat ada beberapa masalah tata kelola di masa lalu. Kami membutuhkan lebih banyak kejelasan tentang kontrak, jenis keuangan yang ada di balik investasi," kata Kazadi.
Kazadi mengatakan, peninjauan tidak akan mengancam investor. Peninjauan justru dilakukan untuk mempererat kemitraan dengan China.
Data dari kamar tambang Kongo menyebut investor China mengendalikan sekitar 70 persen dari sektor pertambangan negara itu, mengambil alih posisi investor-investor Barat.
BERITA TERKAIT: