Sekitar bulan lalu, Amerika Serikat (AS) melaporkan penemuan 120 silo baru di gurun yang terletak di Provinsi Gansu, China bagian barat, lewat gambar citra satelit.
Penemuan itu cukup mengejutkan lantaran hingga tahun lalu, Departemen Pertahanan AS menyebut China hanya memiliki 16 silo yang digunakan untuk rudal balistik antar-benua (ICBM) generasi baru dan hampir 200 hulu ledak.
Kebingungan dicampur kecurigaan dan kekhawatiran publik terhadap kemampuan nuklir China juga ditambah dengan berbagai jenis pembangunan ICBM dan kapal selam nuklir strategis oleh Beijing.
Peneliti di lembaga think-tank Amerika Center for Nonproliferation Studies, James Martin menyebut, silo-silo yang ditemukan oleh Washington Post di dekat kota Yumen digunakan untuk ICBM terbaru China, DF-41. Ia dan para pakar lainnya berpendapat, ICBM itu secara virtual dapat menjangkau seluruh Amerika Serikat (AS).
Selain itu, para peneliti di Federasi Ilmuwan Amerika (FAS) juga telah mengidentifikasi sekitar 110 silo yang sedang dibangun China di dekat kota Hami, Xinjiang timur lewat citra satelit.
Banyaknya penemuan "ladang silo" di China sangat kontras dengan berbagai pernyataan pejabat Beijing yang menekankan bahwa pembangunan nuklir mereka hanya digunakan untuk pencegahan minimum, dan bukan untuk mengobarkan perang nuklir.
Agresivitas China dalam mengembangkan senjata nuklir juga ditunjukkan dengan pembangunan sejumlah besar kapal selam nuklir strategis kelas 094. Ini berarti China ingin mengembangkan kemampuan senjata nuklir untuk seluruh matra, yaitu darat, udara, dan laut.
Sebuah opini dari
The Economist memperkirakan China menggunakan trik
"shell game" dlam pengembangan nuklirnya. Permainan itu ketika sebuah bola ditempatkan di bawah salah satu dari tiga cangkir, yang kemudian dikocok untuk menipu penonton tentang lokasi bola.
Trik
"shell game" ini didukung dengan pandangan peneliti lembaga think-tank Amerika Carnegie Endowment, James Acton yang menyebut China sebenarnya tidak akan memiliki cukup bahan untuk mengisi semua silo miliknya karena Beijing telah berhenti memproduksi plutonium pada 1980-an. Informasi ini seakan menipu "penonton" bahwa China tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan nuklir.
Namun banyak juga pihak yang tidak sependapat, dengan menyebut China sebenarnya telah menunjukkan kemampuan nuklir mereka dari laporan tahunan kekuatan militer mereka yang meningkat secara dramatis.
Terlepas dari semua itu. China masih menolak mengakui pembangunan "ladang silo"-nya. Bahkan Beijing berdalih silo-silo itu merupakan kincir angin, seperti dimuat
India Narrative.
Meski begitu, para ahli mendorong agar China ikut dalam perpanjangan pakta kontrol senjata antara AS dan Rusia, New START, yang sebenarnya telah berakhir pada Februari.
Pemerintahan Presiden Joe Biden juga berulang kali mendesak China masuk dalam kesepakatan. Meski China juga berulang kali menolaknya, dengan menyebut kemampuan nuklir mereka tidak setara dengan AS dan Rusia.
BERITA TERKAIT: