Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, itu merupakan tanda bahaya dan dapat menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat internasional, terutama negara-negara di sekitar negara Asia Tengah, termasuk negaranya.
“Siapa pengungsi ini? Bagaimana kita bisa tahu? Mungkin ada ribuan, atau bahkan jutaan," kata Putin, seperti dikutip dari RT.
"Perbatasannya seribu kilometer - mereka akan menaiki segalanya, mobil, bahkan keledai, dan melarikan diri melintasi padang rumput," lanjutnya.
Putin mengatakan ini menimbulkan potensi ancaman keamanan dan merupakan perhatian langsung bagi warga negara Rusia.
Ia menegaskan tidak ingin ada orang-orang Taliban yang menyamar sebagai pengungsi muncul di negaranya.
"Kami tidak ingin mengulangi apa yang terjadi di tahun 90-an dan pertengahan 2000-an. di mana kami mengalami kengerian yang sekarang terulang di wilayah Afghanistan," ujarnya mengutip serentetan serangan teroris yang didorong oleh separatisme di wilayah mayoritas Muslim di selatan negara itu, seperti Chechnya.
Putin melanjutkan dengan mengatakan bahwa salah satu alasan Rusia melakukan serangan terhadap Negara Islam di Suriah dan mengirim militernya kepada pemerintah Presiden Bashar Assad di Damaskus adalah untuk mencegah negara itu berubah menjadi seperti Afghanistan, dan menjadi tempat berkembang biak untuk terorisme.
Pemimpin Rusia itu juga mengecam rencana negara-negara barat, termasuk AS, untuk memukimkan kembali penerjemah Afghanistan, dan lainnya yang berisiko mendapat pembalasan Taliban, ke negara-negara di kawasan itu, seperti Uzbekistan.
Menurut Putin, ini adalah permintaan yang memalukan dan menimbulkan ancaman keamanan bagi Rusia.
BERITA TERKAIT: