Kirim Petisi, Ratusan Nakes Minta Penanganan Perubahan Iklim Lebih Nyata

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Minggu, 30 Mei 2021, 06:54 WIB
Kirim Petisi, Ratusan Nakes Minta Penanganan Perubahan Iklim Lebih Nyata
Ratusan tenaga kesehatan gelar aksi protes tuntut tindakan melawan perubahan iklim/Net
rmol news logo Sekitar 200 orang tenaga kesehatan melakukan aksi unjuk rasa di depan markas besar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss pada Sabtu (29/5).

Mengenakan jas medis putih dan masker, mereka kompak berbaris dan berjalan sejauh 2 km untuk menuntut otoritas di semua negara mengakui dan bertindak untuk melawan risiko kesehatan dari perubahan iklim.

Beberapa membawa spanduk raksasa yang mendesak tindakan, termasuk termometer menjulang tinggi yang menunjukkan skala suhu merah yang meningkat menuju planet yang terbakar.

Sesampai di gedung WHO, perwakilan dari jaringan aktivis iklim Doctors for Extinction Rebellion (Doctors4XR) menyerahkan petisi kepada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Petisi yang ditandatangani oleh lebih dari 1.100 profesional kesehatan dari seluruh dunia tersebut mengecam kelambanan otoritas dalam bergerak menangani perubahan iklim.

Mereka menyatakan bahwa perubahan iklim menempatkan orang pada risiko kematian.

"Tahun demi tahun, deklarasi demi deklarasi, lembaga multilateral, termasuk WHO, telah memperingatkan kami, perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati membahayakan kesehatan manusia di seluruh dunia," kata petisi itu.

Mereka mengatakan, petugas kesehatan di seluruh dunia sudah setiap hari dihadapkan pada konsekuensi kerusakan lingkungan pada pasien dan komunitas.

"Daftar penyakit yang mereka derita semakin panjang setiap hari. Kami melihat semakin banyak penyakit pernapasan dan kardiovaskular karena udara yang tercemar, hilangnya hari kerja dan kematian karena gelombang panas, kelebihan dan kekurangan gizi karena kurangnya kualitas makanan, serta diare dan keracunan karena air minum yang tercemar," jelas mereka.

Tedros memuji para aktivis, bersumpah untuk membacakan surat mereka kepada negara-negara anggota.

"Pandemi Covid-19 sekali lagi menyoroti hubungan intim antara kesehatan manusia dan planet," ujarnya,

"Pandemi akan berakhir, tetapi tidak ada vaksin untuk perubahan iklim," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA