Nomura Research Institute pada Selasa (25/5) memperkirakan, Jepang kemungkinan akan mengalami kerugian hingga 1,81 triliun yen atau setara dengan Rp 237 triliun (Rp 131/yen) jika Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo dibatalkan.
Namun lembaga think tank itu juga mengatakan, kerugian ekonomi yang jauh lebih besar kemungkinan bisa dialami oleh Jepang jika memaksakan diri untuk mengadakan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo sesuai dengan jadwal.
"Bahkan jika pertandingan dibatalkan, kerugian ekonomi akan lebih kecil daripada (kerusakan yang diakibatkan oleh) keadaan darurat," ujar ekonom eksekutif di Nomura Reserach Institute Takahide Kiuchi, seperti dimuat
Kyodo News.
Menurut data, menyelenggarakan Olimpiade Tokyo tanpa penonton akan menghasilkan pendapatan 1,66 triliun yen, yang berkurang sekitar 146,8 miliar yen jika penonton domestik menghadiri arena.
Pekan lalu, Wakil Presiden Komite Olimpiade Internasional John Coates mengatakan Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas meskipun keadaan darurat diumumkan di ibukota Jepang.
Olimpiade Tokyo awalnya dijadwalkan pada 2020 tetapi ditunda pada musim semi tahun lalu di tengah pandemi virus corona. Pertandingan tersebut akan berlangsung musim panas ini, dari 23 Juli hingga 8 Agustus.
Gelaran pesta olahraga tersebut seharusnya menampilkan 33 disiplin atletik dan 339 kategori.
Namun lonjakan kasus Covid-19 di Jepang membuat publik Jepang mendesak pemerintah untuk membatalkan atau menunda Olimpiade Tokyo.