Asosiasi Praktisi Medis Tokyo pada Senin (17/5) mengatakan rumah sakit sudah kewalahan dengan lonjakan infeksi Covid-19 dan tidak memiliki kapasitas cadangan untuk tambahan kasus lainnya jika Olimpiade Tokyo digelar.
"Kami sangat meminta pihak berwenang untuk meyakinkan IOC (Komite Olimpiade Internasional) bahwa penyelenggaraan Olimpiade itu sulit dan perlu dibatalkan," ujar asosiasi tersebut dalam surat terbuka bertanggal 14 Mei yang ditujukan kepada Perdana Menteri Yoshihide Suga.
"Institusi medis yang menangani Covid-19 sibuk dan hampir tidak memiliki kapasitas cadangan," tambah asosiasi tersebut, seperti dikutip
Reuters.
Asosiasi yang mewakili 6.000 dokter di Jepang itu mengatakan pihaknya khawatir dengan penyelenggaraan Olimpiade lantaran kurangnya tenaga kesehatan dan tempat tidur di beberapa rumah sakit di ibukota.
Jika Olimpiade digelar, tenaga kesehatan akan mengalami kesulitan karena menangani pasien lainnya. Apabila Olimpiade berkontribusi pada peningkatan kematian, maka pemerintah Jepang akan memikul tanggung jawab.
Dalam suratnya, mereka juga mendorong pemerintah untuk memperpanjang keadaan darurat untuk ketiga kalinya di Tokyo dan beberapa prefektur lainnya hingga 31 Mei.
Selain asosiasi tersebut, seruan untuk membatalkan Olimpiade Tokyo juga telah disampaikan oleh sejumlah pakar kesehatan dan kelompok medis lainnya.
Di dunia maya juga muncul petisi pembatalan Olimpiade Tokyo yang telah ditandatangani oleh ratusan ribu orang.
Secara keseluruhan, Jepang telah menghindari penyebaran virus secara eksponensial, tetapi pemerintah mendapat kecaman tajam karena peluncuran vaksinasi yang lamban.
Hanya sekitar 3,5 persen dari populasi sekitar 126 juta yang telah divaksinasi.
Olimpiade Tokyo dijadwalkan digelar pada 23 Juli hingga 8 Agustus dengan protokol kesehatan yang ketat.
BERITA TERKAIT: