Dari laporan
Kyodo News, ribuan warga Myanmar di Jepang melancarkan aksi "Hari Revolusi Musim Semi Global Myanmar". Aksi yang sama juga digelar di Korea Selatan, Taiwan, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.
Di Jepang, para pengunjuk rasa mewarnai tiga jari di kedua tangan mereka dengan warna merah, melambangkan darah 750 demonstran yang gugur oleh aparat keamanan.
"Bebaskan bebaskan para pemimpin kami," teriak mereka, merujuk pada Aung San Suu Kyi yang telah ditahan sejak kudeta pada 1 Februari.
"Akui, akui NUG!" seru mereka.
"Kami, para pemuda Myanmar, memimpin dalam menggelar demonstrasi anti-junta di seluruh dunia hari ini. Kami ingin pemerintah Jepang mengambil tindakan khusus seperti menangguhkan semua proyek ODA (bantuan pembangunan resmi) yang menguntungkan militer Myanmar," ujar seorang penyelenggara aksi di Tokyo.
Lae Lae Lwin, seorang perawat Myanmar yang bekerja di Jepang, mengatakan tidak masuk akal bagi Jepang untuk tidak mendukung NUG sebagai pemerintahan yang sah karena Tokyo telah mengutuk kudeta tersebut dan mendesak junta untuk membebaskan Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya dan memulihkan proses politik demokratis Myanmar.
"Kami tidak ingin Jepang mengabaikan keinginan rakyat Myanmar. Kami ingin Jepang berpihak pada kami, bukan militer," tegasnya.
Pada 1 Februari, militer Myanmar menggulingkan pemerintah sipil dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun. Kudeta tersebut memicu protes massa dan disambut dengan kekerasan yang mematikan.
NUG sendiri dibentuk oleh anggota parlemen yang digulingkan bersama tokoh pro-demokrasi dan aktivis. Mereka menuntut agar junta segera menghentikan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa, membebaskan Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya, dan memulihkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.
BERITA TERKAIT: