Pasalnya, menurut KCSWP, tindakan tersebut merupakan permainan perang yang mengancam perjuangan menjaga perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima
Kantor Berita Politik RMOL pada Selasa (16/3), KCSWP juga meyakini komunitas internasional akan mengecam dan menolak permainan perang yang sedang berlangsung tersebut.
"KCWSP, di masa depan, juga akan melakukan upaya yang lebih kuat untuk berkontribusi pada perdamaian yang stabil di Semenanjung Korea, dan, di jalan ini, akan bergandengan tangan dengan semua kekuatan anti-perang, cinta damai yang menginginkan perdamaian dan keadilan," lanjutnya.
Lewat pernyataannya, KCWSP menggaungkan kembali pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Direktur Departemen Komite Sentral Partai Pekerja Korea (WPK), Kim Yo Jong.
Kim Yo Jong menyatakan protes atas latihan militer yang dilakukan oleh otoritas Korea Selatan dan AS terhadap Korea Utara pada 8 Maret.
Meski memiliki dalih sebagai latihan tahunan yang sifatnya defensif dan simulasi berbasis komputer, ia mengatakan, langkah tersebut tidak mengurangi esensi tindakan permusuhan terhadap Pyongyang.
Setiap tahunnya, Kim mengatakan, mereka mengadakan banyak latihan perang dan melanggar janji. Seperti 110 perang besar dan kecil pada 2018, 190 lainnya pada 2019, dan 170 pada 2020.
"Mereka memilih untuk 'perang di bulan Maret' dan 'krisis di bulan Maret' lagi di bawah pengawasan semua orang Korea, daripada 'kehangatan di bulan Maret'," ujar Kim.
"Latihan perang dan permusuhan tidak akan pernah bisa berjalan dengan dialog dan kerja sama," tegasnya.
Kim mengatakan, situasi saat ini telah menghancurkan fondasi kepercayaan sehingga Pyongyang tidak memiliki alasan untuk memasukan dialog Komite untuk Reunifikasi Damai ke dalam agenda.
Lebih lanjut, Kim juga menyebut pihaknya tengah mempertimbangkan pembubaran Biro Pariwisata Internasional Kumgansan dan organisasi lain yang terkait.
BERITA TERKAIT: