Para nelayan lobster di Australia paham betul rasanya terkena imbas perselisihan antara Canberra dan Beijing, setelah China memberlakukan larangan impor yang hampir total.
Setiap tahunnya, Australia mengekspor lobster batu mencapai setengah miliar dolar AS pada waktu normal. Sebanyak 94 persen di antaranya dikirim ke China.
"Ini telah mempengaruhi kami. Penghasilan kami berkurang secara drastis," kata seorang nelayan bernama Fedele Camarda, kepada
AFP.
Sebagai upaya untuk membantu para nelayan, pemerintah daerah baru-baru ini sudah mengubah UU yang mengizinkan nelayan lobster batu untuk menjual dalam jumlah besar hasil tangkapan mereka melalui jalur belakang selama Desember dan Januari.
Para nelayan menyambut antusias meski tetap harus kecewa karena harga yang dijual oleh mereka jauh dari normal.
Sebelum pandemi Covid-19, harga lobster mencapai 80 dolar AS per kilogram di Australia Barat, dan biasanya rata-rata sekitar 53 dolar AS per kilogram.
Sementara sebelum Natal kemarin, harga lobster turun 36 persen menjadi 34 dolar AS per kilogram.
"Itu cukup untuk mencapai titik impas. Tapi kami menjual habis hampir setiap hari. Kami menerima pesanan di muka karena orang-orang menginginkannya untuk Natal," ucap Carmada.
Hubungan antara Australia dan China telah mencapai titik terendah sepanjang tahun ini. Australia yang mendesak diadakannya penyelidikan asal usul virus corona membuat China marah, di mana sebelumnya kedua belah pihak terjerat masalah larangan Huawei untuk proyek 5G.
BERITA TERKAIT: