Presiden Recep Tayip Erdogan menempatkan pilihannya kepada Ufuk Ulutas, Ketua Pusat Penelitian Strategis di Kementerian Luar Negeri Turki, beberapa haru lalu, seperti dilaporkan
Times of Israel, Minggu (13/12).
Apakah penunjukkan ini akan merekatkan kembali hubungan dua negara yang telah lama koyak? Penunjukkan itu sendiri disebut-sebut atas dukungan Presiden terpilih AS, Joe Biden.
Ankara berusaha meningkatkan hubungannya dengan Washington dan mengantisipasi bahwa isyarat diplomatik terhadap Yerusalem akan memajukan tujuan itu.
Belum ada laporan apakah Israel akan membalas penunjukkan itu dengan mengirim duta besarnya untuk Turki.
Ulutas yang berusia 40 tahun itu merupakan pengangum berat Erdogan dan menghabiskan masa studinya di Universitas Ibrani Yerusalem, seperti dilaporkan al-Monitor. Di unirversitas itu juga Ulutas mempelajari bahasa Ibrani dan politik Timur Tengah.
Dia digambarkan sebagai pribadi yang halus, pintar, dan 'sangat pro-Palestina'. Ulutas juga bekerja sebagai direktur thinktank Turki, Foundation for Political, Economic and Social Research (SETA).
Turki memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Israel, tetapi hubungan itu telah tegang sejak pasukan komando Israel menyerang Mavi Marmara.
Sebanyak 10 aktivis Turki tewas dalam konfrontasi kekerasan dengan pasukan komando angkatan laut Israel di atas kapal Mavi Marmara yang bertujuan untuk mematahkan blokade laut Israel di Jalur Gaza.
Israel mengatakan tentara itu diserang dengan kejam oleh mereka yang berada di dalam pesawat.
BERITA TERKAIT: