Bisakah Trump Mengikuti Jejak Obama Menangguk Untung Dari Penerbitan Buku Setelah Meninggalkan Gedung Putih

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 13 November 2020, 12:05 WIB
Bisakah Trump Mengikuti Jejak Obama Menangguk Untung Dari Penerbitan Buku Setelah Meninggalkan Gedung Putih
Presiden Donald Trump/Net
rmol news logo Pundi-pundi kekayaan Presiden AS Donald Trump sepertinya tak akan berkurang meskipun nanti dia benar-benar keluar dari Gedung Putih. Sejumlah tawaran pembuatan buku dan acara televisi bernilai ratusan juta dolar AS telah menanti suami Melania Trump ini.

Sebuah sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan bahwa Trump telah mendapat banyak tawaran.

“Trump dibombardir penawaran buku dan TV yang bisa bernilai 100 juta dolar AS,” begitu dituliskan dalam laporan The New York Post seperti dikutip dari 9News, Kamis (12/11).

Laporan itu muncul di tengah upaya hukum Trump yang diajukan Trump untuk menggugat hasil pemilu 2020 yang menurutnya penuh kecurangan.

“Penawaran buku dan TV adalah rencana B jika dia tidak memenangkan pertarungan memperebutkan suara,” kata sumber itu kepada The Post.

“Terjemahkan 70 juta suara (yang diperoleh Trump) menjadi pemirsa TV dan pembaca buku. Semua buku anti Trump telah menghasilkan banyak uang. Jadi bagi Donald ini adalah hit yang pasti,” sumber itu melanjutkan.

Namun, sumber penerbitan lain membantah angka yang dapat diraup Trump dari penjualan buku.

Beberapa penerbit mengatakan kepada AP bahwa mereka tidak percaya Trump akan memiliki daya tarik global yang sama dengan mantan Presiden Barack Obama yang akan meluncurkan "A Promised Land’ minggu depan.

Obama dan istrinya, Michelle Obama, dilaporkan menyetujui kesepakatan senilai 65 juta dolar AS dengan penerbit Crown pada 2017.

Trump dinilai memiliki pengikut yang kuat, lebih dari 70 juta suara, walaupun di sisi lain dia menjadi presiden pertama dalam 30 tahun terakhir yang kalah dalam upaya mempertahankan kekuasaan di periode kedua.

“Itu adalah kepresidenan yang sangat kontroversial dan dunia penerbitan New York tidak sepenuhnya dipenuhi oleh penggemar Trump,” kata Matt Latimer dari lembaga sastra Javelin yang antara lain membantu mantan direktur FBI James Comey, mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton.

“Tapi ada puluhan juta orang Amerika yang menilai kepresidenan Trump sebagai masa yang penting dan mereka penggemar pemerintahannya. Setidaknya beberapa penerbit akan mengenali itu,” sambungnya.

Penerbit mana pun yang menandatangani kontrak dengan Trump atau pejabat tinggi administrasi mungkin menghadapi kemarahan publik, termasuk dari kalangan industri penerbitan sendiri.

Hal seperti itu pernah terjadi ketika penerbit Simon & Schuster mendaftarkan jurnalis-komentator sayap kanan Milo Yiannopoulos pada tahun 2017. Ketika itu lebih dari 100 penulis mengajukan keberatan secara terbuka. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA