Sejak sengketa Nagorno-Karabkh terjadi, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan, kedua negara jarang melakukan konflik terbuka, alih-alih perang retorika semata.
Namun saat ini, konflik bersenjata yang memakan banyak korban dan memicu terjadinya perang terjadi ketika Turki menyatakan dukungannya yang disertai dengan pengiriman senjata dan pasukan.
"Meskipun benar bahwa kepemimpinan Azerbaijan telah secara aktif mempromosikan retorika permusuhan selama 15 tahun terakhir, sekarang keputusan untuk melancarkan perang dimotivasi oleh dukungan penuh Turki," kata Pashinyan dalam wawancara dengan
AFP, Selasa (6/10).
Ia mengatakan, tanpa adanya keterlibatan Turki, maka perang tidak akan terjadi.
Lebih lanjut, Pashinyan juga menyoroti keterlibatan pasukan asing, khususnya para pejuang dari kelompok teroris Timur Tengah di zona konflik. Dengan begitu, ia mengatakan, Armenia berusaha untuk melancarkan operasi kontra terorisme.
Pekan lalu Presiden Prancis Emanuel Macron mengatakan Turki telah mengirim para pejuang dari Suriah untuk bertempur bersama dengan Azerbaijan.
Tudingan yang serupa juga disampaikan oleh kepala intelijen nasional Rusia dan seorang pejabat Pentagon.
Konflik Nagorno-Karabakh kembali meletus dan menciptakan pertempuran sengit antara Armenia dan Azerbaijan pada Minggu (27/9). Hingga saat ini, keduanya terus melakukan aksi bentrokan bersenjata hingga memakan banyak korban jiwa.
BERITA TERKAIT: