Kuncian diberlakukan setelah tiga kasus baru Covid-19 ditemukan di kota tersebut. Ketiganya merupakan kasus impor yang dibawa dari Myanmar, kemungkinan dari imigran ilegal.
Alhasil selain kuncian, pihak berwenang juga meluncurkan program pengujian Covid-19 massal dan penindakan imigran ilegal.
Dilaporkan
CNA, Wakil Walikota Ruili, Yang Bianqiang pada Senin (14/9) mengatakan, pihaknya akan memulangkan mereka yang tidak dapat memverifikasi waktu kedatangan ke China dan tidak memiliki tempat tinggal atau tempat bekerj tetap selama di sana.
Kemudian, pejabat kota pada Selasa (15/9) mengatakan, penduduk telah diberi pengumuman untuk tinggal di rumah dan mereka dilarang memasuki atau meninggalkan kota sejak Senin malam.
Semua bisnis kecuali supermarket, apotek, dan pasar makanan di Ruili telah ditutup. Sementara, sebanyak lebih dari 210 ribu penduduk di Ruili akan dites Covid-19.
Ruilisendiri dipisahkan oleh sungai dangkal dari kota perbatasan Muse, pintu gerbang utama Myanmar ke Cina yang terkenal dengan jalan-jalan kotor, senjata, kasino, dan narkoba.
Myanmar adalah bagian penting dari Belt and Road Initiative (BRI) China, visi Presiden China Xi Jinping sebesar 1 triliun dolar AS untuk proyek maritim, kereta api dan jalan raya di seluruh Asia, Afrika dan Eropa. Termasuk usulan jalur kereta api berkecepatan tinggi senilai 8,9 miliar dolar AS dari Yunnan ke barat Myanmar pantai.
China sejauh ini telah mengendalikan penyebaran virus corona melalui serangkaian pembatasan perjalanan dan penguncian ketat, dimulai dengan pusat kota Wuhan, tempat virus pertama kali muncul akhir tahun lalu.
Meski begitu, perbatasan negara tetap tertutup untuk sebagian besar orang asing, dan sebagian besar infeksi dalam beberapa bulan terakhir berasal dari warga negara asing yang kembali.
Pada Selasa, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, China sudah melaporkan tujuh kasus baru Covid-19, selain tiga infeksi di Ruili. Sehingga totalnya menjadi 85.202 kasus dengan 4.634 kematian.
BERITA TERKAIT: