Hanya beberapa minggu setelah eskalasi ketegangan yang mematikan antara dua tetangga di Kaukasus selatan, Anna Hakobyan mengambil bagian dalam kamp pelatihan militer selama seminggu, mulai dari 25 Agustus, dan melibatkan 15 wanita Armenia dari berbagai usia dan profesi, seperti dikutip dari
Armenpress, Jumat (4/9).
Dalam pelatihan yang disebut kesiapsiagaan tempur itu, Hakobyan dan perempuan lainnya benar-benar tenggelam dalam kehidupan militer. Mereka mengenakan seragam, ditempatkan di unit perempuan, ikut menjalani pelatihan profesional, fisik, kesiapan tempur, dan pertolongan pertama.
Dalam upaya menanamkan keterampilan militer pada perempuan, pelatihan tersebut juga mencakup demonstrasi penggunaan dan mekanisme peralatan militer, termasuk senapan, serta tes menembak.
Hakobyan, bersama dengan peserta lainnya, juga mengunjungi Karabakh Atas, atau yang lebih dikenal sebagai Nagorno-Karabakh.
Pelatihan yang diikuti oleh Hakobyan secara militer bersenjata ini dinilai sebagai bagian dari kampanye Perempuan Untuk Perdamaian yang diusung oleh Hakobyan.
Dalam akun media sosialnya, Hakobyan menulis, ia tengah mengupayakan Kampanye Women For Peace yang bertujuan, 'menyatukan wanita melawan perang, menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi para pemimpin negara yang berkonflik untuk mencari solusi atas konflik di meja perundingan'.
Hakobyan dalam pernyataannya mengatakan bahwa 'perang harus selalu dihindari, selalu ada alternatif'.
Satu hal yang dianggap bertolak belakang dengan bentrokan yang kerap terjadi antara tentara Armenia dan Azerbaijan.
Tentara Armenia melanggar gencatan senjata pada 12 Juli dan menyerang posisi perbatasan Azerbaijan di distrik Tovuz barat laut dengan tembakan artileri. Sedikitnya 12 tentara Azerbaijan, termasuk perwira tinggi, menjadi martir dan empat tentara terluka dalam serangan lintas batas oleh pasukan Armenia.
Azerbaijan menyalahkan Armenia atas tindakan provokatif. Ankara mendukung Baku, dan memperingatkan Yerevan bahwa mereka tidak akan ragu untuk melawan segala jenis serangan terhadap tetangganya di timur.
Selama puluhan tahun Karabakh Atas atau Nagorno-Karabakh menjadi rebutan Armenia dan Azerbaijan. Sejak 1991 Nagorno-Karabakh telah diakusi oleh agresi militer Armenia sebagai wilayah Armenia, hal yang menurut Azerbaijan bertentangan dengan hukum internasional.
BERITA TERKAIT: