Jurubicara Kementerian Luar Negeri, Zhao Lijian pada Jumat (28/7) mengatakan, jika Washington melarang penggunaan aplikasi WeChat, maka Beijing bisa memboikot Apple.
"Jika WeChat dilarang, maka tidak akan ada alasan mengapa China menyimpan produk iPhone dan Apple," ujarnya seperti dikutip
AFP.
Sehari sebelumnya, Kamis (27/8), Zhao mengatakan banyak orang China yang mengaku akan berhenti menggunakan iPhone jika WeChat dilarang di AS. Ia juga menuduh AS telah melakukan penindasan ekonomi sistematis terhadap perusahaan non-AS, salah satunya menargetkan aplikasi China.
Seorang pengguna media sosial China pada Jumat mengungkapkan keresahannya terkait dengan keputusan yang diambil oleh Washington dan Beijing terkait aksi saling blokir.
"Saya menggunakan Apple, tapi saya mencintai negara saya. Ini bukan konflik," ujar seorang pengguna di platform Weibo.
"Tidak peduli seberapa bagus Apple, itu hanya telepon. Bisa diganti, tapi WeChat berbeda. Orang China modern akan kehilangan jiwa mereka jika meninggalkan WeChat, terutama para pebisnis," ujar pengguna lain.
WeChat pada awalnya merupakan aplikasi pesan singkat. Namun seiring berjalannya waktu, fitur-fitur yang dimiliki oleh aplikasi buatan Tanscent tersebut berkembang menjadi alat pembayaran dan banyak hal.
Rencana boikot Apple oleh China muncul di tengah ketegangan dengan AS. Bulan ini, Presiden Donald Trump mengumumkan larangan penggunaan WeChat dan TikTok mulai 15 September 2020 dengan alasan mengganggu keamanan nasional.
Sementara itu, Apple diketahui menyumbang 8 persen pasar ponsel pintar di China pada kuartal II 2020.
BERITA TERKAIT: