Ia mengatakan, Palestina pada akhirnya bertanggung jawab atas negosiasi normalisasi hubungan UEA dan Israel. Lantaran penangguhan rencana aneksasi Tepi Barat menjadi salah satu prinsip utama perjanjian tersebut.
“UEA melihat peluang karena kami selalu didesak oleh Palestina untuk membantu menghentikan aneksasi. Dengan mengaitkan (kesepakatan) dengan penangguhan aneksasi, kami mendapatkan kesepakatan yang bagus," ujarnya.
“Kami berharap permintaan kami terkait kesepakatan dengan Israel bisa dipenuhi,†tambahnya saat berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh lembaga think-tank, Dewan Atlantik pada Kamis (20/8).
Melansir
Arab News, Gargash mengatakan, nantinya kedutaan besar UEA di Israel akan berada di Tel Aviv dan bukan di Yerusalem.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan sebuah informasi yang cukup mengejutkan. Gargash mengatakan, selain UEA, beberapa negara Arab juga sedang dalam tahap melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
Berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh lembaga Gargash mengatakan, negara-negara Arab tersebut berada dalam tahapan yang berada terkait pembangunan hubungan dengan Israel.
"Kawasan memang membutuhkan terobosan strategis," ujarnya seperti dikutip
Arab News, Kamis (19/8).
Komentar Gargash muncul satu pekan setelah UEA dan Israel menandatangani perjanjian normalisasi yang bersejarah. Menurutnya, tidak seperti Mesir dan Yordania, hubungannya dengan Israel akan menjadi perdamaian yang hangat.
"Ini akan menjadi perdamaian yang hangat karena, tidak seperti Yordania atau Mesir, kami tidak berperang dengan Israel," kata Gargash.
Sebelum melakukan normalisasi, kedua negara tersebut memang sempat berperang dengan Israel. Israel menandatangani perjanjian damai dengan Mesir pada 1979 dan dengan Yordania pada 1994.
BERITA TERKAIT: