Otoritas moneter UEA itu meluncurkan paket penopang likuiditas guna menjaga stabilitas sektor perbankan yang sempat terguncang akibat konflik regional.
Langkah ini langsung berdampak ke pasar. Saham bank-bank UEA melonjak setelah pengumuman kebijakan, menyusul tekanan berat yang sebelumnya menghantam sektor keuangan sejak pecahnya perang Iran-AS- Israel pada 28 Februari lalu.
Dalam paket tersebut, CBUAE memberikan akses lebih besar terhadap cadangan likuiditas hingga 30 persen dari kewajiban giro wajib minimum, serta membuka fasilitas pendanaan dalam mata uang dirham dan dolar AS.
CBUAE juga menekankan bahwa sistem keuangan nasional masih berada dalam kondisi tangguh.
“Sistem keuangan UEA telah menunjukkan ketahanan selama keadaan luar biasa saat ini yang memengaruhi pasar global dan regional tanpa dampak material apa pun terhadap kesehatan sektor perbankan dan sistem pembayaran,” tulis otoritas tersebut seperti dikutip dari
Reuters, Kamis, 19 Maret 2026.
Kepala ekonom Abu Dhabi Commercial Bank, Monica Malik, mengatakan kebijakan itu dirancang untuk memastikan perbankan tetap memiliki ruang napas di tengah tekanan likuiditas.
“Sekali lagi, kami melihat paket ini bertujuan untuk memastikan bahwa bank memiliki likuiditas yang cukup dan bahwa kredit terus mengalir ke ekonomi riil. Kami melihat paket ini sebagai pendukung stabilitas makro dan kepercayaan ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.
Di sisi lain, analis Goldman Sachs melihat kebijakan ini sebagai bantalan penting bagi sektor perbankan.
“Kami pikir berita ini seharusnya menjadi sentimen positif dalam jangka pendek karena memberikan likuiditas sementara dan bantuan modal bagi bank di masa sulit,” tulis mereka, seraya menilai pelonggaran buffer modal memberi ruang bagi bank untuk tetap menyalurkan kredit.
Meski begitu, bayang-bayang risiko belum sepenuhnya sirna. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperingatkan potensi arus keluar dana besar-besaran jika konflik terus memburuk.
Namun hingga kini, tekanan signifikan belum terlihat, dengan langkah CBUAE dinilai masih bersifat preventif, lebih sebagai upaya menenangkan pasar yang gelisah ketimbang respons terhadap krisis yang sudah terjadi.
BERITA TERKAIT: