Banyak Ditentang, Ini Alasan Joe Biden Tetap Pilih Kamala Harris

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Rabu, 12 Agustus 2020, 08:22 WIB
Banyak Ditentang, Ini Alasan Joe Biden Tetap Pilih Kamala Harris
Calon Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Kamala Harris/Net
rmol news logo Calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden sudah mengumumkan nama Senator California, Kamala Harris sebagai pendampingnya untuk pemilihan umum November mendatang.

"Mendapat kehormatan besar untuk mengumumkan bahwa saya telah memilih Kamala Harris, seorang pejuang tak kenal takut dan salah satu pegawai negeri terbaik, sebagai pasangan saya," cuit Biden dalam akun Twitter-nya pada Rabu (12/8) atau Selasa (11/8) waktu AS.

Tidak cukup mengejutkan karena Harris masuk ke dalam dua kandidat utama Biden, bersama dengan mantan penasihat keamanan Susan Rice.

Namun tak sedikit pihak yang menentang nama Harris masuk mendampingi Biden lantaran sosoknya yang begitu kuat dikhawatirkan akan mendominasi. Terlebih, keduanya sempat berselisih dalam pemilihan pendahuluan.

Kerabat Harris pun tidak cukup setuju dengan posisi wakil presiden yang membuatnya terkungkung, mengingat jarang seorang wakil yang bisa lebih berkembang.

Kendati begitu, Biden hanya memiliki waktu 84 hari untuk memenangkan pemilihan, melawan petahana, Presiden Donald Trump dan wakilnya, Mike Pence.

Lantas, apa saja pertimbangan Biden sehingga memilih Harris sebagai calon wakilnya?

Mengutip CNN, salah satu pertimbangan Biden tentunya karena Harris adalah seorang perempuan kulit hitam. Tepatnya keturunan Amerika Hitam dan Asia Selatan.

Selama ini, Biden berjanji untuk memilih perempuan sebagai wakilnya. Sementara itu, di tengah protes anti-rasisme yang dipicu oleh kematian George Floyd, ia juga didesak untuk mencari pendamping dari ras kulit hitam.

Harris sendiri sangat vokal bersuara jika menyangkut ras. Ia menjadi salah seorang yang menggagas perlunya reformasi kepolisian.

Selanjutnya adalah keikutsertaan Harris dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat dan menjadi rivalnya.

Ketika itu, Harris memiliki dukungan yang luar biasa bagi seorang pemula. Ia memiliki gagasan-gagasan yang bagus walaupun kerap bertentangan dengan Biden.

Kemudian, Harris memiliki pengalaman dalam pemerintahan sebagai Jaksa Agung California dan Senator AS sejak 2017. Ia menjadi harta karun yang sangat besar bagi Partai Demokrat.

Pada 55 tahun, Harris mewakili generasi pemimpin yang lebih muda. Itu adalah faktor utama bagi Biden yang akan berusia 78 tahun pada hari pelantikan tahun depan.

Dengan usia setua itu, Biden mengaku mencari sosok generasi muda yang siap untuk menggantikannya jika ia harus mundur.

Terlepas dari semua itu, ada tekanan bagi Biden untuk segera "menendang" petahana, Presiden Donald Trump dari jabatannya, terlebih dengan penanganan wabah Covid-19 yang dianggapnya serampangan.

Di bawah teori kasus itu, Biden perlu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk meyakinkan pemilih bahwa Trump pantas dipecat. Alih-alih fokus pada kampanye apa yang akan ia lakukan jika berada di posisi tersebut. Dan Harris akan menjadi sosok yang tepat untuk menyeimbangkannya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA