Dua hari setelah peristiwa mematikan tersebut terjadi, pada Kamis (6/8), Chamoun mengumumkan pengunduran dirinya, melansir
Anadolu Agency.
Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, ia mengatakan tidak tahan melihat rasa sakit dan luka di mata para korban. Ia mengaku sudah tidak bisa mentoleransi kelalaian dan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah.
"Saya mengumumkan pengunduran diri saya sebagai dutabesar sebagai protes terhadap kelalaian negara, korupsi, dan kebohongan," ujar Chamoun.
"Bencana ini membunyikan alarm, kita tidak boleh menunjukkan belas kasihan kepada mereka semua yang harus pergi," tambahnya merujuk pada politisi yang telah memerintah Lebanon sejak Perang Saudara 1975-1990.
Lebih lanjut, ia juga menyerukan agar UU pemilu yang baru segera disahkan dan pemilihan harus segera dilakukan.
Pengunduran diri Chamoun menjadi yang aksi mundur kedua pejabat pemerintahan Lebanon setelah ledakan.
Pada Rabu (6/8), anggota parlemen Marwan Hamadeh juga telah mengundurkan diri karena kelalaian pihak berwenang yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat dengan sembarangan di gudang Pelabuhan Beirut.
Ribuan ton amonium nitrat tersebut diyakini sebagai sumber ledakan di Pelabuhan Beirut yang sudah menewaskan lebih dari 150 orang dan melukai sedikitnya 5.000 lainnya. Sementara puluhan lainnya masih hilang di bawah reruntuhan.
Para mantan perdana menteri Lebanon telah menyerukan pembentukan komite investigasi internasional untuk menyelidiki insiden tersebut. Sedangkan pemerintah sendiri mengaku penyelidikan yang dilakukan pihak berwenang baru bisa mendapatkan hasil dalam waktu lima hari.
BERITA TERKAIT: