Media China: AS Gagal Tangani Pandemik Sehingga Selalu Salahkan China, Itu Trik Lama

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 30 April 2020, 12:38 WIB
Media China: AS Gagal Tangani Pandemik Sehingga Selalu Salahkan China, Itu Trik Lama
llustrasi/Net
rmol news logo Beijing terus-terusan menerima kritikan dan kecaman dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Di bawah kepemimpinan Trump, AS menyalahkan China atas pandemik virus corona.

Tidak terima menjadi lemparan kesalahan, sejumlah media pemerintah China akhirnya ramai-ramai mengkritik AS. Media-media tersebut menilai Washington sebagai negara kekuatan dunia yang berdarah dingin, tapi tak kompeten mengatasi pandemi di dalam negerinya.

"Washington egois, berdarah dingin, dan tidak becus," tulis Xinhua, media yang dikelola pemerintah China dalam editorialnya yang diterbitkan hari Rabu (29/4), berjudul "Bashing China over pandemic despicable, futile".

Pemerintahan Trump sedang menyalahkan China untuk menutupi kegelapannya sendiri, ketidakmampuan dan akuntabilitas dalam menangani wabah di Amerika Serikat, tulis editorial Xinhua.

Selama ini Presiden AS Donald Trump kerap menyalahkan bahkan mengklaim bahwa virus tersebut berasal dari China dan China dengan sengaja menunda penanganan untuk sebuah kepentingan.

Jika pemerintahan Trump benar-benar bertanggung jawab untuk rakyat Amerika, masuk akal dan mampu menanggapi epidemi, itu harus berhenti mengalihkan kesalahan kepada China, dan menjelaskan kepada dunia apa yang telah dilakukan dan apa yang terjadi di Amerika Serikat, menurut editoral Xinhua.

Belakangan AS tengah 'menghasut' negara lain untuk ikut serta menyuarakan penyelidikan independen tentang asal-usul virus, yang menggambarkannya sebagai "noda pada China".

Menurut Xinhua, AS telah menyinggung China atas sumber pandemi Covid-19.

“China telah memperjelas apa yang telah dilakukannya untuk menyediakan informasi bagi seluruh dunia tentang pencegahan dan pengendalian epidemi. Masalah melacak asal virus sangat rumit, dan sejauh ini tidak ada kesimpulan yang dapat dibuat," tulis Xinhua.

Global Times juga menulis pada kolom editorialnya dengan judul "1 million Covid-19 infections show US no super power".

“AS adalah rumah bagi lebih dari 300 juta orang. Jika proporsi infeksi yang sama terjadi di China, negara dengan lebih dari 1,4 miliar orang, 4 juta orang akan terinfeksi, sekitar 50 kali lebih banyak dari jumlah sebenarnya yang dilaporkan," bunyi editorial tersebut.

Orang-orang China tidak akan membiarkan negara mereka menderita infeksi besar seperti AS. Bahwa sejak awal pandemik, China telah sekuat tenaga melakukan penanganan dengan langkah-langkah yang nyata.

Sementara,  AS tidak berada dalam kekacauan, bukan karena orang Amerika telah rela menerima penderitaan mereka dari Covid-19 tetapi karena mereka terlalu putus asa untuk bertarung, menurut media tersebut.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga tak lepas dari kritikan media China karena mendukung upaya  penyelidikan asal usul Covid-19.

Morrison dianggap meluncurkan pernyataan dukungan penyelidikan tersebut karena sedang berusaha mengalihkan perhatian orang dari caranya yang tidak berhasil dalam penanganan kebakaran hutan yang menghancurkan negara itu.

"Mereka menggunakan trik lama untuk mencoba menyalahkan China," tulis media China itu.

Surat kabar itu menyatakan seruan Morrison untuk penyelidikan independen akan gagal, dan Prancis dan Inggris akan menolaknya.

"Ini adalah tamparan di wajah yang datang dengan cepat." rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA