Pengumuman itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Dominic Raab pada Kamis (16/4), yang mewakili Perdana Menteri Boris Johnson yang masih memulihkan diri dari Covid-19 yang dideritanya.
Sebelum mengumumkan perpanjangan penguncian, Raab juga memimpin pertemuan darurat untuk mengevaluasi secara ilmiah pengaruh dari penguncian.
"Berdasarkan saran ini, pemerintah telah memutuskan bahwa langkah-langkah saat ini harus tetap dilakukan setidaknya selama tiga pekan ke depan," ujar Raab seperti dimuat
Reuters.
"Melonggarkan salah satu tindakan yang saat ini dilakukan akan berisiko merusak kesehatan masyarakat dan ekonomi," tambahnya.
"Kita sudah terlalu jauh, kita sudah kehilangan terlalu banyak orang yang dicintai, kita sudah mengorbankan terlalu banyak untuk meredakan (penyebaran) saat ini, terutama ketika kita mulai melihat bukti bahwa upaya kita membuahkan hasil," terang Raab.
Saat ini, Inggris menjadi negara dengan angka kematian akibat Covid-19 tertinggi kelima di dunia, setelah Amerika Serikat, Italia, Spanyol, dan Prancis.
Di mana virus corona baru telah membunuh 13.729 orang Inggris. Angka tersebut sebenarnya kemungkinan lebih besar karena hanya mencakup kematian di rumah sakit.
Dengan adanya perpanjangan penguncian, berarti warga Inggris masih diharuskan untuk tetap tinggal di rumah, kecuali untuk berbelanja kebutuhan dasar dan medis.
Sebelumnya, Inggris pertama kali memberlakukan kuncian pada 23 Maret untuk tiga minggu pertama. Menurut para penasihat medis, saat ini tingkat penularan virus corona di Inggris sudah berada di angka di bawah 1, sejak penguncian dilakukan.
BERITA TERKAIT: